Koperasi Produk dan Brand Wilayah sebagai Konsep Pertahanan UMKM di Daerah Pariwisata
Setiap manusia terdorong untuk memenuhi segala kebutuhannya, baik kebutuhan jasmani maupun rohani. Salah satunya adalah rekreasi atau pariwisata. Bagi wisatawan, berwisata merupakan kebutuhan rohani untuk menghindari stres, menghilangkan rasa lelah pikiran dari kesibukan, dan untuk mengembalikan semangat beraktivitas kembali. Bagi masyarakat didaerah wisata, pariwisata merupakan sektor yang menopang kebutuhan ekonomi mereka, dengan mempromosikan wilayah tertentu sebagai daerah wisata untuk meningkatkan perdagangan melalui penjualan barang dan jasa. Dengan adanya wisatawan yang mengunjungi suatu daerah wisata, maka semakin besar permintaan dan peluang masyarakat untuk memanfaatkannya.
Pariwisata adalah salah satu dari industri gaya baru yang mampu menyediakan pertumbuhan ekonomi yang cepat dalam hal kesempatan kerja, pendapatan, taraf hidup dan dalam mengaktifkan sektor produksi lain di suatu daerah atau negara penerima wisatawan (Biantoro, 2014). Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia sepanjang 2016 mencapai 11,52 juta orang, meningkat sebesar 10,69% dari tahun sebelumnya. Sedangkan jumlah kunjungan wisatawan dalam negeri menurut Menteri Pariwisata pada tahun 2015 mencapai 255 juta perjalanan.
Dalam era globalisasi, pemanfaatan teknologi merupakan hal penting dalam agenda bisnis. Hal ini merupakan peluang yang harus dikelola sebaik dan seoptimal mungkin untuk kepentingan usaha. Koperasi sebagai organisasi ekonomi yang dimiliki dan dioperasikan oleh orang-seorang demi kepentingan bersama. Tujuan koperasi adalah menyejahterakan anggotanya. Dalam pelaksanaannya, koperasi harus memanfaatkan peluang ini. Karena melalui globalisasi, koperasi dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
Menteri Koperasi dan UKM menyatakan bahwa kontribusi koperasi ke perekonomian nasional pada tahun 2015 mencapai Rp 508,5 triliun. Jika dihitung porsi koperasi mencapai 4,41% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional yang tercatat Rp 11.540,7 triliun. Melihat begitu banyaknya jumlah koperasi, namun masih kecilnya kontribusi untuk perekonomian di Indonesia, hal ini merupakan tantangan yang harus diperbaiki. Untuk mengkaji peran koperasi dalam mengembangkan ekonomi kreatif yang ada di daerah wisata, koperasi dapat didirikan dengan berdasarkan potensi yang ada. Hal ini ditandai dengan berbagai potensi industri kreatif di daerah obyek wisata. Potensi tersebut, diantaranya adalah industri makanan ringan, merchandise, dan kerajinan tangan.
Koperasi dapat didirikan oleh para pelaku bisnis yang ada di obyek wisata. Koperasi dapat berperan dalam pengembangan ekonomi kreatif di daerah pariwisata dalam mengkoordinasikan para pedagang di obyek wisata, penataan lingkungan usaha, menyeragamkan harga produk sejenis sehingga tidak terjadi persaingan yang saling merugikan, memberikan pelatihan keterampilan sentuhan teknologi pada produk dan pemasarannya untuk pelaku bisnis yang tergabung dalam koperasi, dan menjalin jaringan dengan berbagai pihak sebagai mitra bisnis di obyek wisata.
Salah satu modal utama dalam berwirausaha agar sukses di pasar yang kompetitif adalah kreativitas. Indonesia memiliki banyak pelaku usaha yang sangat kreatif di dalam produknya. Entah dengan menghadirkan produk yang sama sekali baru yang artinya belum ada sebelumnya atau sekedar memberi sentuhan baru dengan modifikasi, atau bermain di kemasannya. Produk yang dihasilkan masyarakat didaerah wisata masih berskala produk rumahan. Dengan teknologi dan proses pembuatan yang sederhana. Melalui koperasi, penyuluhan-penyuluhan tentang pentingnya sentuhan teknologi dalam produk akan terus digalakkan untuk semua anggota koperasi.
Produk yang menggunakan teknologi modern, akan dinilai lebih baik. Pasalnya, produk menjadi lebih higienis dan terpercaya. Sentuhan teknologi menjadi satu hal yang sangat penting untuk meningkatkan daya saing. Nilai harga jualnyapun akan naik, karena anggota koperasi (pedagang) tidak hanya menjual produk tapi disertai mutunya. Hal ini harus diperhatikan, karena dengan sentuhan teknologi dan keterampilan sumber daya manusia kita bisa memperoleh nilai tambah (value added). Teknologi yang tepat akan meningkatkan nilai jual yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
Disamping itu, melalui MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) akan memudahkan wisatawan untuk berkunjung dari suatu negara ke negara lain, merupakan sebuah peluang dan tantangan. Masyarakat harus bisa menerima dan mengikuti perkembangannya. Oleh karena itu, kualitas produk yang dihasilkan bukan untuk berskala regional, namun harus untuk skala internasional. Dengan memanfaatkan e-business, pemasaran produk yang tak terbatas melalui website, media sosial, dan berbagai situs penjualan online akan membantu produk anggota koperasi tidak hanya siap beli didaerah wisata, namun juga siap kirim bahkan ke penjuru dunia.
Setiap daerah wisata akan identik dengan oleh-oleh khas daerahnya. Begitupun dengan oleh-oleh khas daerah akan mencirikan daerahnya. Daerah sebagai tempat pemasaran produk, disamping itu produk juga bisa memasarkan daerahnya. Melalui produk yang menjadi ciri khas suatu daerah wisata, pelaku usaha dapat memperkenalkan wisata daerahnya. Dengan begitu akan menarik wisatawan untuk berkunjung, dan feed back-nya kembali lagi ke pelaku usaha. Dengan semakin banyaknya wisatawan yang berkunjung, maka peluang untuk mendapatkan penghasilan akan lebih besar.
Koperasi di daerah wisata mengembangkan konsep produk edukasi. Koperasi menyediakan informasi yang melekat pada setiap produk. Pada produk makanan/merchandise, dalam pengemasan yang telah diseragamkan untuk seluruh anggota koperasi akan diberi penjelasan singkat terkait wisata yang ada didaerah tersebut. Informasi tersebut terkait budaya, legenda, mitos, filosofi, atau gambaran umum tentang wisata dan disertai gambar. Dengan begitu, koperasi memberikan edukasi kepada konsumen terkait daerah wisatanya. Hal ini diharapkan akan menambah daya tarik bagi calon wisatawan dan bahkan wisatawan yang sudah berkunjung untuk berkunjung kembali nantinya.
Di setiap daerah wisata selalu banyak pedagang-pedagang makanan/merchandise, yang berjualan disepanjang jalan dengan harga terjangkau dibandingkan dengan swalayan. Hal ini menuai banyak respons, bagi wisatawan lokal harga terjangkau mungkin menjadi pilihan, namun bagi wisatawan mancanegara, keorisinalitasan sebuah daerah akan dibayar dengan harga mahal.
Untuk meningkatkan kepercayaan akan kualitas produk, koperasi menyediakan sebuah standarisasi yang menjadi label produk dalam hal ini adalah brand wilayah. Lebel ini akan menjadi brand yang melekat pada suatu daerah. Misalnya Bali yang memiliki Joger. Hal ini juga dapat ditiru oleh koperasi diseluruh daerah wisata yang ada di Indonesia. Brand wilayah adalah peluang untuk memperkenalkan identitas daerah sekaligus identitas produk. Koperasi sebagai unit yang menyatukan produk lokal masyarakat dalam sebuah standar akan menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen. Brand sebagai identitas asli suatu daerah yang tidak dapat dimiliki oleh daerah lain. Dengan begitu, kepuasan konsumen dan pertukaran pemasaran akan naik, maka pendapatan juga akan naik.
Sentuhan teknologi, koperasi produk edukasi, dan brand wilayah adalah solusi dalam meningkatkan publisitas dan mengintegrasikan kesiapan masayarakat. Melalui koperasi produk edukasi dan brand wilayah, masyarakat sebagai pelaku usaha UMKM khususnya yang tergabung dalam koperasi dapat meningkatkan komunikasi dan publisitas yang berkaitan erat dengan pemasaran. Melalui penyuluhan dalam konteks sentuhan teknologi, masyarakat akan dibina menuju kesiapan dalam menghadapi globalisasi. Sehingga pertahanan UMKM di daerah pariwisata tetap kokoh diera ini.
Wisata sebagai aset yang tangibel harus dipadukan dengan aset yang intangible, seperti teknologi, kultur, dan sumber daya manusia. Sehingga dapat diciptakan suatu keunggulan bersaing pada tingkat makro (negara) maupun mikro (badan usaha). Disamping itu, MEA (Masyarakat Ekonomi Asia) akan memudahkan wisatawan untuk berkunjung dari suatu negara ke negara lain, merupakan sebuah peluang dan tantangan. Masyarakat harus bisa menerima dan mengikuti perkembangannya. Oleh karena itu, kualitas produk yang dihasilkan bukan lagi berskala regional, namun harus berskala internasional.
Comments
Post a Comment