Pandemi Memaksa Orangtua Belajar Berkomunikasi

Pandemi virus corona atau Covid-19 mengubah segala pekerjaan menjadi dalam jaringan (daring). Himbauan pemerintah kepada masyarakat agar di rumah saja memiliki dampak besar. Sebagian orang dipaksa untuk segera beradaptasi. Di lain sisi, terdapat satu hal yang tidak berubah, dan justru mendapat jatah lebih. Adalah peran menjadi orangtua.
Peran orangtua sangat penting untuk mendidik anak. Minimal menjaga anak agar tidak bosan. Menurut Lahargo Kembarem, psikiater dari Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDKSI), selain kesehatan fisik, kesehatan jiwa anak perlu mendapatkan perhatian selama pandemi. Dampak psikologis Covid-19 ini nyata adanya. Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengatakan, terdapat 80% dari laporan gugus tugas terkait corona adalah psikologi.
Hal tersebut wajib menjadi perhatian para orangtua. Stay at home seharusnya dapat menjalin kekompakan dengan anak. Kunci utamanya adalah komunikasi. Orangtua perlu hadir dengan kesungguhan hati. Cara berkomunikasi dengan anak, akan mempengaruhi tindakannya di kemudian hari.
Mau atau tidak, suka atau tidak, orangtua harus belajar cara berkomunikasi. Tidak hanya dengan rekan kerja atau klien, komunikasi dengan anak juga ada seninya. Perlu digarisbawahi, komunikasi tidak hanya dibutuhkan di masa pandemi. Pun di luar itu, komunikasi tetap penting. Menurut Nur’aini (2008: 37-10), berikut adalah kiat-kiat yang bisa diikuti oleh para orangtua.

1.    Hargai ide anak
Ketika buku agenda bapak ibu, atau buku tugas kakak dicoreti oleh adik, apa yang dilakukan? Spontan marah? Mengomeli anak, atau melihat dulu sebentar. Orangtua yang memiliki balita yang sedang gemar mencoret harus sabar menghadapi anak. Coba lihat dulu, anak sedang membuat apa. Coba tanya dan beri pujian. Kemudian beri tahu agar lain kali tidak mencoreti buku agenda dan jelaskan alasan logisnya. Selanjutnya orangtua memberi buku atau kertas kosong lain untuk melanjutkan kegiatan anak.
Ketika anak sedang berusaha membuat suatu kreasi, penghargaan adalah hal yang umumnya diharapkan. Sekecil apapun itu, usaha anak harus diapresiasi. Berikan kata-kata motivasi. Perihal pesan lain, orangtua dapat memasukkan kritik dan saran dengan nada yang membangun.

2.    Hargai keberanian
Ketika anak berbuat salah misalnya, kemudian mengakui atau bahkan berterus terang terlebih dahulu, sepatutnya orangtua menghargainya. Keberanian mengakui sebuah tindakan adalah bukti bahwa anak memiliki tanggung jawab. Meminta maaf kepada orangtua juga merupakan bentuk menghormati orangtua.
Jadi, ketika anak ketahuan melakukan sebuah kesalahan, orangtua harus menghargai upayanya. Bapak dan ibu juga perlu menyadari bahwa pesan-pesan moral tidak melulu disampaikan dengan nada tinggi.

3.    Gunakan bahasa tubuh positif
Menggunakan bahasa tubuh ketimbang berkata-kata kasar adalah bentuk komunikasi tanpa komunikasi verbal. Ada kalanya, bahasa tubuh jauh lebih bermakna di mata anak daripada kata-kata yang disampaikan. Oleh karena itu mengatur bahasa tubuh juga penting untuk menyampaikan maksud orangtua kepada anak.
Bahasa tubuh positif maupun negatif biasanya lebih cepat ditangkap oleh anak. Contoh bahasa tubuh positif adalah menyejajarkan wajah dengan wajah anak, menatap mata anak dengan lembut, dan mendengarkan cerita anak hingga menyelesaikan kalimat terakhirnya. Sedangkan bahasa tubuh negatif bisa dengan menunjukkan wajah tidak suka atau marah.
Dengan setidaknya menerapkan tiga kiat di atas, semoga para orangtua bisa berkomunikasi dengan lebih baik. Jika dirasa perlu, bapak, ibu, dan kakak bisa ikut belajar di kelas daring mengenai bagaimana kiat berkomunikasi dengan anak. Berdiskusi bersama juga salah satu upaya dalam menjalin komunikasi positif. 
Orangtua memang memiliki tanggung jawab besar. Selain soal rumah tangga dan pekerjaan, mereka harus multitalenta dalam mengajar anak. Orangtua juga dituntut untuk bisa menjadi ayah dan ibu, teman, dan juga guru.
Selamat belajar berkomunikasi, Pak! Bu!

Pustaka
Fahlevi, Fahdi. 2020. Peran Orangtua Penting dalam Jaga Psikologis Anak di Tengah Pandemi Virus Corona. https://m.tribunnews.com/amp/corona/2020/05/01/peran-orangtua-penting-dalam-jaga-psikologis-anak-di-tengah-pandemi-virus-corona/. Diakses pada 05/05/2020
Nur’ani, Farida. 2008. Edu Games for Childs. Surakarta: Afra Publishing
Putri, Fadhila A. W. 2020. “Menghargai anak penting untuk pertubuhannya,” tutur seorang ibu. https://id.theasianparent.com/menghargai-anak/. Diakses pada 05/05/2020

#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-5

Comments

Popular posts from this blog

5 Jamur yang Biasa Dibuat Mukbang Ini Wajib Kamu Coba

Jika Pandemi Adalah Penjara