Semua Orang Akan Baper pada Masanya

Kalimat-dalam gambar-itu tercetus ketika beberapa orang menceritakan keresahannya tentang anggapan orang lain, atas sikap baper yang ditunjukkannya pada khalayak. Memang, karena kita adalah manusia biasa, kita pasti memiliki kerapuhan sendiri perihal perasaan kita. Oleh sebab itu, sangat wajar bila kita baper akan suatu hal.
Jika diingat-ingat, sepertinya baru beberapa tahun terakhir, istilah baper familier digunakan. Tak heran, salah satu kata yang sering dianggap slang ini ternyata sudah termuat di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Baper memiliki pengertian (ter)bawa perasaan; berlebihan atau terlalu sensitif dalam menanggapi sesuatu hal.
Saking digandrunginya istilah ini, beberapa orang menganggap semua respon yang dikeluarkan orang lain adalah bentuk dari kebaperan. Sampai Sujiwo Tedjo pernah mengatakan:
“Lama-lama orang males romantis karena nanti disebut galau. Males peduli takut disebut kepo. Males mendetail takut dibilang rempong. Males mengubah-ubah point of view dalam debat takut dibilang labil. Juga, lama-lama generasi mendatang males berpendapat takut dikira curhat.”
Ketika kita menilai semua respon seseorang yang tidak disukai sebagai bentuk baper, kita harus mulai mewawas diri. Jadi, siapa yang baper di sini?
Dari pengertian baper, sudah seharusnya setiap orang memiliki standar apa yang disebut baper. Agar tak semua sikap dianggap sebagai bentuk baper. Karena standar ini bersifat relatif. Hal inilah yang kemudian membenarkan stigma seseorang terhadap orang lain untuk menilai tingkat kebaperan seseorang.

Apa itu baper menurutmu?
Agar kita tak termasuk orang yang mudah baper karena menilai seseorang baperan, alangkah lebih baiknya, kita menentukan definisi baper menurut kita. Sampai batas mana seseorang dikatakan baper?
Berlebihan atau terlalu sensitif menghadapi sesuatu hal, bukan berarti tidak boleh menanggapi sesuatu hal dengan perasaan. Karena tak bisa dipungkiri, dalam menghadapi apapun itu, selain otak, juga terdapat campur tangan perasaan. Setelah diolah oleh otak dan perasaan, seseorang akan memberikan respon berupa tindakan atau ekspresi. Hal ini terjadi pada semua orang, baik orang baper maupun orang yang menganggap baper.

Memahami perasaan
Ketika biasanya ceria kemudian diam dalam sebuah obrolan, dibilang baper. Ketika biasanya memberikan pendapat lalu idem terhadap pendapat orang lain, dibilang tersinggung. Padahal ya, biasa saja. Pernah mengalami hal seperti ini?
Memahami memang pekerjaan yang paling sulit. Karena memahami seolah-olah dikaitkan dengan sesuatu yang bersifat emosional, yaitu perasaan. Padahal, tidak selalu demikian. Memahami juga dapat melibatkan indra. Apa yang kita lihat dan kita dengar, mempengaruhi apa yang kita rasakan.
Selain memiliki masalah yang berbeda, setiap orang juga memiliki tingkat sensitifitas dan persepsi yang berbeda. Ada orang yang bisa mengabaikan omongan orang lain, ada yang bisa sebagian, ada yang tidak bisa sama sekali. Apa yang dianggap lucu oleh sebagian orang, bagi orang lain mungkin tidak lucu sama sekali. Ibarat kata, kedua hal ini adalah perihal selera.
Bila bisa memilih, barangkali bersikap bodoh amat itu lebih mudah. Namun bagi beberapa orang, sekalipun bisa memilih, ia akan tetap memilih dengan intensitas yang sama. Semua itu kembali lagi, bergantung pada cara pandang seseorang.

Siapa yang melarang baper!
Jika baper diartikan dan digunakan dengan benarpun, tetap saja tidak ada yang bisa disalahkan dari perasaan itu. Kita harus paham, bahwa perasaan tidak bisa disalahkan atau diubah. Yang mampu dikontrol oleh seseorang adalah tindakannya. Otaklah yang berfungsi untuk itu.
Pada takaran terentu-yang seharusnya tidak termasuk-baper baik untuk kita. Setiap manusia dianugrahi perasaan. Perasaan inilah yang mampu menengahi diri seseorang sehingga dianggap memiliki hati. Bukankah seburuk-buruknya baper, masih lebih mending daripada tidak berperasaan?

Iya, baper dan empati itu beda
Benar. Memang tak bisa serta-merta dikatakan bahwa orang baper atau highly sensitive person dapat dikatakan sama dengan orang berempati. Tapi bukan berati pula bahwa baper bukan bagian dari empati. Yang membedakannya adalah apa yang dihasilkan dari olah rasa tersebut.
Baper itu penting. Karena yang membedakan manusia dengan binatang adalah perasaan. Tanpa perasaan, kita tidak mungkin memiliki rasa simpati dan empati terhadap orang lain. Praktik sederhananya, ketika kita baper terhadap sesuatu, hal ini menunjukkan bahwa kita peduli terhadap hal tersebut. Kepedulian ini, lama-lama bisa terkikis di generasi kita kalau apa-apa dikatakan baper.
Bisa jadi, berangkat dari baper, seseorang menunjukkan kepeduliannya terhadap apa yang terjadi di sekitar, sehingga terdorong untuk melakukan sesuatu, misalnya dengan mencari dan menemukan solusi atas suatu masalah yang terjadi.

Tak apa menjadi baper
Baper selalu diidentikkan dengan orang-orang pemalu dan introver, padahal orang ekstroverpun juga bisa tergolong highly sensitive person. Meski kerap dicap cengeng dan sederet karakterisik negatif lainnya, seorang dengan sensitivitas tinggi tak perlu mati-matian mengubah dirinya. Mencoba ‘menyembuhkan’ diri sendiri dari baper tidak akan bisa dilakukan, karena baper sudah menjadi bawaan sifat alamiah manusia.
Untuk kita yang sudah terlahir dan tergolong baperan, tidak apa. Menjadi baper itu wajar. Yang bisa kita lakukan adalah mengontrol apa yang kita ekspresikan dari kebaperan itu.
Sedangkan untuk kita yang tergolong mengatakan orang lain baperan, coba kita pikir-pikir lagi, benarkah standar kebaperan kita? Seperti halnya puisi, di mana orang akan puitis pada waktunya, sesorang juga akan baper pada masanya. Kita juga harus mencoba memahami dan memandang sisi positif dari orang yang kita anggap baper, tentang apa yang sebenarnya ingin ditunjukkan.
Semoga baper tidak disalahpersepsikan. Sehingga alih-alih baper, malah mengekang kebebasan orang lain dengan standar baper kita. Tapi, bukan berarti karena sifat yang mudah baper, seseorang membenarkan sikapnya ini. Jangan sampai kita semena-mena merundung orang lain dengan kata-kata baper.
Jika pembaca terlanjur baper dengan artikel ini, tak apa, silakan. Mumpung Ramadan, mari kita minta ampun pada yang Maha Kuasa, atas kebaperan kita dalam menilai orang lain. Astagfirullah. Semoga kita bisa mengelola kebaperan ini dengan baik ya.

#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-17

Comments

Popular posts from this blog

5 Jamur yang Biasa Dibuat Mukbang Ini Wajib Kamu Coba

Pandemi Memaksa Orangtua Belajar Berkomunikasi

Jika Pandemi Adalah Penjara