PDKT dengan Serius kepada Tuhan


Bulan Ramadan adalah bulan suka cita. Di dalamnya terdapat keutamaan lailatulkadar. Puncaknya pada hari Raya Idul Fitri. Seseorang menjadi fitrah kembali setelah melakukan amalan-amalan baik di bulan Suci.
Ramadan selalu menjadi momen yang pas, untuk muhasabah diri dan mendekat kepada Sang Ilahi Rabbi. Namun dari sekian upaya medekat alias PDKT, yakinkah kita serius mendekati-Nya?

Jangan mendekat karena ada maunya
Hampir kebanyakan manusia, mengingat Tuhan ketika marabahaya datang. Memiliki sebuah keinginan adalah doa-doa yang selalu dipanjatkan siang dan malam. Mempertanyakan jodoh, mencari solusi hidup, meminta kelapangan rezeki, selalu menjadi hal-hal di balik alasan seseorang mendekat kepada Tuhannya.
Memang, doa adalah salah satu perantara Tuhan dengan hamba-Nya. Tapi tidak semata-mata hanya karena ada keinginan, lalu hamba mencari Tuhannya, bukan? Jika sudah demikian, benarkah itu yang dinamakan PDKT dengan serius?
Dengan sesama manusia saja, kita bisa menilai, mana orang yang PDKT dengan serius, dan mana yang main-main. Orang yang mendekat dengan serius, tidak akan mendekati seseorang hanya karena sesuatu hal. Ibarat berpasangan, pasangan yang sungguh tidak akan mencintai sebab apa. Itulah makna serius yang sesungguhnya.

Niatkan segala sesuatu adalah ibadah
Niat adalah tolok ukur suatu perbuatan. Diterima atau tidak dan besar atau kecilnya pahala bergantung pada niat. Niat bukan hanya perkara yang dilafalkan dalam lisan, namun juga yang mendasari seseorang berbuat sesuatu. Seseorang makan karena ada niat untuk makan, seseorang bekerja karena ada niat untuk bekerja, dan seseorang beribadah juga karena ada niat beribadah.
Berikut adalah riwayat Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits, yang memuat tentang pentingnya niat:
عَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.”
Niat yang tertinggi kualitasnya disebut ikhlas. Sebagai syarat sahnya amal, alangkah sia-sianya seseorang beribadah bila didasari niat yang salah. Namun, suatu keberuntungan bagi seseorang yang memahami konsep niat dan mendasarkan segala perbuatannya, sehingga dinilai ibadah. Masyallah.

Lazimkan kalimat tayibah
Dibandingkan mengucap kalimat tayibah, mungkinkah kata anjay, OMG, jinca, dae-bak, atau kata lainnya lebih sering kita ucapkan? Meski saat ini, kalimat tayibah agak tergeser oleh kata-kata yang bagi sebagian orang dianggap lebih keren, tapi tetap saja tidak mampu menggantikan peran penting dan keutamaannya.
Umat islam dianjurkan untuk memperbanyak zikir dan membaca kalimat tayibah. Selain sebagai upaya mengingat Tuhan, juga membawa ketenangan hati bagi hamba-Nya. Hal ini seperti firman Allah berikut:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ ٱللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ ٱللَّهِ تَطْمَئِنُّ ٱلْقُلُوبُ
“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d Ayat 28)
Kalimat tayibah (termasuk zikir) dianjurkan tidak hanya saat beribadah, seperti salat. Namun di luar aktifitas itu, dzikir bisa dilafalkan dengan dibaca dalam hati. Bahkan di manapun (kecuali tidak pada tempatnya, misal toilet) dan kapanpun.
Dikutip dari Galamedianews, menurut Abu Laits al-Samarqandi dalam Tanbihul Ghafilin setidaknya ada tujuh kalimat tayibah yang perlu dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Basmalah setiap mengawali perbuatan, hamdalah saat mengakhiri perbuatan dan mendengar kabar baik, istigfar bila melakukan kesalahan, insyaallah tiap akan mengerjakan sesuatu, hauqalah bila menghadapi sesuatu yang sulit, tarji’ bila ditimpa musibah, dan kalimat tauhid sepanjang waktu.
Masyallah, jika kita bisa benar-benar melazimkan kalimat-kalimat tayibah di atas. Tak diragukan lagi, banyak sekali kisah-kisah mengenai keutamaan melazimkan kalimat ini. Semoga kita bisa konsisten membiasakannya.

Dari tiga poin penting di atas, agar kita termasuk hamba yang serius mendekat kepada Allah, marilah kita memperbaiki diri. Meminta ampun kepada-Nya jika selama ini hanya mendekat karena ada inginnya. Meminta ampun jika selama ini kita salah niat dalam berbuat. Lalu berjanji pada diri kita sendiri, untuk melazimkan kalimat tayibah dibandingkan kalimat yang tidak ada manfaatnya.
Allah begitu pemurahnya, masih memafkan kita: hamba-hamba yang mencari ketika butuh, menangis-nangis mohon ampun ketika sedang jatuh, dan melupakan-Nya ketika mendapatkan nikmat yang juga dari-Nya. Beginilah kelemahan seorang hamba, menetapkan hati pada-Nya saja kita masih goyah. Lalu masihkah kita menuntut? Padahal PDKT pada-Nya saja kita masih tidak serius. Astagfirullah, semoga tidak lagi.
Terima kasih kontemplasi hari ini.

Pustaka
_____. 2019. Ini Tujuh Kalimat Dzikir yang Harus Dibiasakan Dalam Kehidupan Sehari-hari. https://www.galamedianews.com/?arsip=228174&judul=ini-tujuh-kalimat-dzikir-yang-harus-dibiasakan-dalam-kehidupan-sehari-hari. Diakses pada 15/05/2020
_____.___. Quran Surat Ar-Rad Ayat 28.  https://tafsirweb.com/3988-quran-surat-ar-rad-ayat-28.html. Diakses pada 15/05/2020
Hadidi, Marwan. 2014. Penjelasan Hadits “Innamal A’malu Binniyat” (1). https://muslim.or.id/21418-penjelasan-hadits-innamal-amalu-binniyat-1.html. Diakses pada 15/05/2020

#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-15

Comments

Popular posts from this blog

5 Jamur yang Biasa Dibuat Mukbang Ini Wajib Kamu Coba

Pandemi Memaksa Orangtua Belajar Berkomunikasi

Jika Pandemi Adalah Penjara