Menjelajah Waktu Melalui Buku


Setiap buku yang telah dibaca, memiliki kesan tersendiri. Bahkan mungkin, di antara kita, masih mengingat beberapa yang dianggap favorit. Apapun bukunya, akan memiliki pembaca yang kemudian menyimpan kenangannya bersama buku itu.
Jika dipikir-pikir, kehidupan kita tak bisa lepas dari buku. Mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kita dikenalkan dengan buku bergambar, lalu di sekolah kita bertemu dengan buku pelajaran, dan di luar dari itu kita butuh membaca buku untuk menambah referensi pengetahuan hingga sekadar hiburan.
Buku-termasuk di dalamnya buku tulis, buku gambar, komik, novel, esai, resep masak, dan hal lainnya yang termasuk definisi buku-memiliki ruang tersendiri dalam ingatan kita. Bagi orang yang melawati PAUD, mulai belajar mengenal dan mengingat warna dan huruf, dari buku bergambar yang dicetak besar dan bisa diwarnai atau ditebali itu. Atau di antara kita yang tidak pernah PAUD secara formal, tentu masih ingat buku paket bahasa Indonesia yang dicetak di kertas A5 tentang keluarga Budi. Agaknya buku inilah yang terekam di memori siapa saja pertama kali.
Setelah lancar membaca, bacaan kita semakin beraneka. Ada yang suka membaca buku cerita, komik, dan majalah, di samping membaca buku pelajaran tentunya. Beranjak dewasa, kita mulai menyukai bacaan lain seperti buku-buku fiksi dan non fiksi. Lalu saat ini, masihkah kita membaca di tengah pandemi?

Membuka kenangan
Berbicara soal kenangan, saya ingin bercerita tentang kenangan saya bersama beberapa buku. Tulisan ini saya dedikasikan khusus untuk para penulis buku yang telah membersamai kenangan saya. Terutama buku fiksi.

Pertama, Jewel of Magic
Buku karya Natsuna Kawase yang dialih bahasa oleh Olce Balukh adalah komik yang pertama kali saya baca. Kira-kira waktu itu berusia sembilan tahunan, punya beberapa komik yang dibeli Kakak. Tapi hanya itu yang berkesan dan masih utuh, mungkin yang lainnya sudah ibu rongsokan untuk ditukar dengan bawang merah atau bawang putih.
Sebelum menulis ini, saya baru saja sadar bahwa seharusnya saya belum cukup umur waktu itu untuk masuk kategori pembaca yang boleh membaca ini. Tapi saya ingat betul, dibandingkan saya menonton TV sinema atau drama pesugihan yang digemari orangtua saat itu, lebih baik saya membaca komik.
Saking sukanya saya dengan komik ini, saya pernah memutuskan menggunakan nama salah satu tokoh utamanya menjadi nama pena, Radian. Bukan hanya nama pena, terakhir kali saya masih menggunakannya sebagai nama keredaksian di jurnalistik kampus.

Kedua, Mei Hwa dan Sang Pelintas Zaman
Buku ini saya peroleh dari give away yang diadakan oleh penulisnya melalui sosial media. Ya, Afifah Afra adalah salah satu penulis yang saya gandrungi. Mungkin karena waktu madrasah sanawiah, hampir sebagian besar novel yang menarik menurut saya di perpustakaan sekolah adalah karya beliau.
Dari sekian novelnya, ketika itu menurut saya novel ini lumayan berat untuk saya pahami. Mungkin karena diksi yang digunakan belum familiar bagi saya, juga plotnya yang cukup membuat saya tidak paham. Walhasil saya waktu itu baca berkali-kali, tapi tetap saja tidak paham. Satu hal yang paling menarik selain plotnya, latar waktu yang digunakan (tahun 1930-1998) berhasil membuat saya merinding membayangkan jika cerita ini terjadi tepat sebelum saya lahir.
Oh ya, soal penulis ini ada kesan lain. Suatu ketika, kakak saya melihat novel-novel beliau yang saya pinjam dan mulai menyukainya sampai sekarang. Saking sukanya, nama pena Ibu Yeti Mulati Ahmad ini, dipakai sebagai nama anaknya (keponakan saya). Masyaallah.

Ketiga, Mawar di Tiang Gantungan
Ini adalah kumpulan cerpen kisah natal di akhir Desember. Kira-kira dua tahun yang lalu saya membeli buku ini. Awalnya ke toko buku tapi tak ada tujuan ingin beli buku apa, namun ketika sekelebat melihat warna merah menyala dengan judul apik ini, saya langsung beli tanpa pikir panjang.
Jujur, itu kali pertama saya baca kumpulan cerpen. Wow! Ternyata menarik sekali. Pesannya sampai, emosinya kena. Saya sampai sesenggukan baca itu. Meskipun saya baca berulang-ulang tetap saja. Saya jadi ingat, tentang Hafalan Surat Delisa, salah satu buku yang juga sukses bikin saya berlinang air mata. Sejak itu, saya jadi ingin belajar menulis cerpen.

Keempat, Rona Elegi Gita karya Aryasuta
Saya membaca ini karena penasaran. Buku kategori novelet ini adalah karya salah satu teman. Saya jadi ingat, ketika dia meminta pendapat tentang naskahnya. Ya, waktu itu, karena saya tidak pernah baca novelet dan belum pernah menemukan cerita model seperti itu di novel, tidak berkomentar banyak. Apalagi saya lumayan lama meninggalkan dunia perfiksian, jadi feel-nya kurang.
Setelah terbit, awalnya saya tidak penasaran, mungkin karena saya sudah tahu naskah sebelumnya. Namun akhirnya saya putuskan buat membaca lagi atas rekomendasi teman saya ini. Dan wow! Ternyata tidak sepenuhnya seperti drama klise yang saya bayangkan. Bahkan saya yakin, dia melakukan riset mendalam di setiap tempat yang digunakan latar.
Sudah ya, itu saja dulu. Saya yakin pembaca juga mempunyai buku favorit yang menarik untuk diceritakan. Bukankah dengan mengingat kenangan tentang sebuah buku bisa membuat kita seolah-olah menjelajah waktu? Mengingat kenangan ketika kita membaca dan cerita di baliknya.

Menutup kenangan
Memang, kenangan sejatinya tak bisa ditutup. Karena akan selalu ada selagi kita hidup. Rasanya begitu lucu, ketika saya menghayal punya kekuatan dan dipertemukan dengan pangeran. Begitu senang pas dapat buku dari Afifah Afra. Terkesima dengan gaya kepenulisan semua penulis di Mawar di Tiang Gantungan. Juga pengalaman tentang naskah teman saya di noveletnya.
Tapi bukan hanya empat itu yang seru. Semua buku yang dibaca pasti menarik, apalagi yang berhasil membuat pembacanya terpikir setelahya. Tidak hanya fiksi, bukankah buku non fiksi juga dianggap berhasil jika membuat pembacanya berpikir setelah membacanya?
Jadi, ayo membaca. Apa saja. Lalu menjelajah waktu. Dari kenangan-kenangan yang disimpan bersama buku-buku. Mumpung Ramadan dan di rumah saja, perbanyak baca Alquran juga buku ya, Pembaca!

#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-20

Fyi, ini artikel terkahir dari challenge #BERSEMADI x #FLPSurabaya. Semoga saya dan pembaca tetap istikamah dalam bersemadi.

Comments

Popular posts from this blog

5 Jamur yang Biasa Dibuat Mukbang Ini Wajib Kamu Coba

Pandemi Memaksa Orangtua Belajar Berkomunikasi

Jika Pandemi Adalah Penjara