Memaknai Sebuah Kata Bernada Hinaan


Dihina tidak tumbang, dipuji tidak terbang.
Giliran diberi pertimbangan atau masukan, langsung bimbang, gelisah tak karuan.
Berbicara tentang kata-kata, tentu semua orang sepakat, bahwa kata yang diucapkan seseorang mempengaruhi orang lain, sekecil apapun itu. Saya mencoba memahami dengan kesoktahuan, mengapa kalimat pertama dari narasi ini disebut kata mutiara. Mutiara itu cantik, mahal. Untuk menjadi mutiara, bagaimanakah asal usulnya? Ya, saya tidak akan mengurai kesoktahuan saya lebih lanjut soal mutiara. Yang jelas, karena mutira itu cantik dan mahal, tidak asal dan tidak mudah.
Dihina tidak tumbang, dipuji tidak terbang. Makhluk apakah itu? Mungkin hanya manusia pilihan Allah. Atau manusia yang teguh hati agar dipilih oleh Allah. Nyatanya, mengilhami kata mutiara ini begitu sulit, apalagi soal mengatur kata dan respon terhadap suatu kata. Kata-kata orang, bisa menjadi pedang yang mematikan. Orang bisa bunuh diri karena dirundung, patah hati setelah dikatakan putus, dan menyerah meski belum berjuang.
Memang benar, tak selamanya kata-kata pujian bisa membangun seseorang. Tapi lebih tak mungkin selamanya, kata-kata hinaan bisa membuat orang bertahan. Setidaknya tidak tumbang, seperti kata mutiara di atas. Sebaik apapun tujuan, jika disampaikan dengan cara yang tidak baik, belum tentu akan baik hasilnya.
Kata bernada hinaan, memiliki tiga kemungkinan; baik, baik dan buruk, atau buruk. Pengklasifikasian ini berdasarkan niat. Niat yang tak terlihat dan hanya tersirat. Mungkin tersurat, jika disampaikan oleh si pelontar. Kategori baik, jika pelontar kata melontarkan ini sebagai pemacu agar lebih baik lagi. Katagori baik dan buruk, jika pelontar melontarkan ini dengan sedikit kebencian. Katagori terakhir, jika pelontar semata-mata untuk melontarkan hal ini.
Dari pengkategorian tersebut, saya mencoba berpikir positif. Karena manusia sementara, dunia ini fana, kekhilafan bisa di mana-mana. Saya juga pernah melontarkan sebuah kata bernada hinaan. Jadi, bukan karena saya menulis ini lalu cenderung playing victim. Tapi karena saya menulis ini, saya ingin mengubah pola pikir. Utamanya, pola pikir saya sendiri.

Saya akan mencoba mengunakan kata bernada positif. Misalnya mengubah kata tidak menjadi belum. Saya akan menghindari menggunakan kata perintah. Karena hakikatnya, semua orang memiliki hak untuk melakukan apapun tanpa intimidasi orang lain. Saya akan mencoba diam, terus belajar dari orang-orang.

Walau saya termasuk sulit untuk berkata ya sudah, atau biarlah, bukan menjadi alasan merasa harus diprioritaskan. Saya paham betul, saya ini hanya apa. Seorang hamba yang sibuk dengan perasaan dan pikirannya sendiri. Iya, saya masih begini. Mentang-mentang saya punya perasaan, segala sesuatu mudah dibawa perasaan. Mentang-mentang saya punya pikiran, membuat merasa paling pemikir sendiri.
Sepatah kata bernada hinaan tak akan bisa hilang walau dengan seribu pujian.
Anggap saja saya ini orang gila, yang merengek-rengek untuk disembuhkan. Meski mungkin belum ada orang gila yang minta disembuhkan. Tapi bukankah orang gila juga manusia? Bukan karena gila lalu menghalalkan siapa saja buat membunuhnya. Justru karena saya minta disembuhkan, setidaknya ketika siapa saja melintas di jalanan lalu menemui saya di tengah jalan, bunyikan klakson dengan kencang. Agar telinga saya yang tuli ini bisa mendengar.
Untuk saya dan orang-orang seperti saya di luar sana. Saya yakin, dan saya maklum, jika kata-kata yang dilontarkan seseorang kadang tidak melalui proses pikir. Kadang hanya diniatkan untuk berkelakar meski tidak lucu. Atau yang lain?
Tapi saya mulai berpikir lagi, bagaimana bisa memikirkan perasaan orang lain, jika perasaan sendiri tak bisa diatur. Benar kiranya, manusia tak lebih dari hamba. Kita sama-sama hidup. Hanya saja saya kadang tuli, tapi tidak bisu. Bisa berlontar kata-kata. 
Saya hargai usaha pelontar untuk mengingatkan, semoga tidak saling gusar. Terima kasih sudah menjadi bagian dari proses kontemplasi hari ini. Di empat belas Ramadan ini, saya berusaha memaknai.
Intinya, saya menulis lagi. Seberapapun tidak disukai, bukan tujuan saya menjadikan orang lain suka. Yang penting bukankah hidup, setelah hampir gila dengan perasaan sendiri? Ya Allah, hamba lebay sekali.
Sebentar, saya baru sadar. Apakah kalimat pertama diatas adalah kata-kata mutiara? Peribahasa? Atau kata bijak? Atau apa?

Disclaimer:
Artikel ini hanya berisi pendapat pribadi. Pandangan sengaja disampaikan tanpa merujuk referensi.


#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya

#BERSEMADI_HARIKE-7

Comments

Popular posts from this blog

5 Jamur yang Biasa Dibuat Mukbang Ini Wajib Kamu Coba

Pandemi Memaksa Orangtua Belajar Berkomunikasi

Jika Pandemi Adalah Penjara