Malas Membahas Corona


Mengapa Saya Malas?
Corona bikin merana. Siti kemarin di-PHK. Budi narik ojek cuman ngabisin bensin aja. Rani ngambek minta beliin tambahan kuota. Surti bingung mau belanja apa buat buka. Astaga, corona. Kita semua merana. Yang kaya masih ada sisa, yang miskin hanya berharap saja, sembari doa. Ya Tuhan, apakah ini karma?
Membaca comelan di atas membuatmu mengerinyitkan dahi? Atau biasa saja, karena terlalu sering mendengarnya? Sah saja jika kamu merasa demikian.
Kita sama tahu, akibat merebaknya Covid-19 tidak hanya menyerang kesehatan. Tapi juga ekonomi. Yang paling dikhawatirkan, jika virus corona ini bertahan hingga jangka panjang. Nauudzubillah. Semoga tidak.
Membahas tentang corona, selalu berkaitan dengan kesehatan dan ekonomi. Karena dua hal inilah yang paling kentara saat ini. Dibalik semua itu, ada sisi lain yang mungkin belum terkulik dalam, dari bahasan corona. Dan hal inilah yang kadang membuat masyarakat malas mengikuti perkembangan beritanya. Semua media mem-blow up berita yang sama. Seolah hanya ada berita penambahan pasien positif, negatif, dan meninggal dunia.
Memang benar, tujuannya baik, untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat sesegera mungkin. Tapi hal ini kadang membuat masyarakat jenuh. Melihat kepiluan yang sama tapi tidak bisa berbuat apa-apa selain wasapada.
Sebab masyarakat mengganggap dirinya tidak mampu berbuat apa-apa adalah persamaan nasib. Informasi mengenai bantuan yang diberikan oleh pemerintah diterima, namun entah uangnya ada atau tidak yang menjadi soalnya. Masyarakat yang sedang bergantung kepada pemerintah mengalami dilema. Ibaratnya, antara pilihan untuk terus berharap atau bunuh diri saja.
Pemerintah tidak sepenuhnya salah. Karena pasti susah mengatur orang-orang susah sebegini banyaknya. Hanya saja tingkah wakil rakyat, para menteri, staf khusus milenial, kadang membuat siapa saja tertawa. Kok bisa sebegitunya? Tapi pemerintah juga tak bisa dianggap sepenuhnya ceroboh, karena faktanya pemerintah sedang berjuang bersama rakyatnya.
Media juga tidak bisa disalahkan. Karena media memiliki tujuan dalam memberikan kabar. Mereka bukan hendak menyebar ketakutan, hanya mengajak kita agar meningkatkan kewaspadaan dan kepedulian.
Lalu? Jika kita masih saja mencari siapa yang pantas disalahkan, mungkin sudah menjadi nafsu masing-masing orang untuk playing victim. Padahal, apakah benar kita ini korban? Apakah kita salah?

Apa yang Bisa Dilakukan?
Apapun itu dapat kita lakukan oleh orang-orang pemalas, jika mau.

Memetik Hikmah dari Rasa Malas
Satu hal yang perlu diacungi jempol meskipun beberapa orang yang merasa malas membahas corona adalah ketidakabaiannya. Memang, sudah seharusnya, semalas apapun kita untuk membahas corona, kita tidak boleh abai. Kita harus lebih berorientasi dengan apa yang bisa dilakukan.
Kontribusi orang yang malas karena kekecewaannya ini juga berdampak besar. Memang benar, belum ada riset terkait hal ini. Tapi keyakinan mengenai kepudulian antar sesama warga Indonesia ini ada. Banyak kegiatan sosial yang bisa dilakukan; galang dana, berbagi dengan ojol, dan hal-hal baik lain, yang bisa menular dengan cepat. Apalagi di kalangan orang-orang yang malas membahas corona ini.
Selain itu, berbeda dengan beberapa orang yang concern membahas corona, kekecewaannya terhadap realitas mendorong untuk tidak melakukan playing victim. Karena mereka tidak benar-benar memikirkan siapa yang menjadi korban dan tersangka yang patut disalahkan.
Orang-orang yang malas membahas corona, merasa semua pihak adalah korban. Atau sebaliknya, semua pihak adalah tersangka. Pembenarannya, semua hal yang menjadi musibah adalah bagian dari ujian Tuhan yang diberikan kepada makhluk-Nya yang pemalas ini.

Semoga Saya Tidak Malas Berbuat
Amiin.

Tulisan ini diketik sebagai bagian dari harapan. Semoga terkabulkan oleh para pembaca. Seperti harapan kepada pemerintah, harapan kepada orang-orang yang malas membahas corona, juga pantas digaungkan.

#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-2

Comments

Popular posts from this blog

5 Jamur yang Biasa Dibuat Mukbang Ini Wajib Kamu Coba

Pandemi Memaksa Orangtua Belajar Berkomunikasi

Jika Pandemi Adalah Penjara