Tujuh Belas Hari Menuju Kemenangan, Siapakah yang Akan Menang?

Ilustrasi oleh Gresika

Hampir setengah Ramadan kita lalui. Untuk menuju hari kemenangan, umat muslim harus menahan diri selama satu bulan. Jika sebelumnya-bagi beberapa orang-perilaku menahan ini hanya dilakukan dengan sekenanya, kini justru mendapat tantangan ekstra. Selain melawan hawa nafsu sendiri, Covid-19 juga turut menghantui.
Beberapa orang panik. Semua seolah dipaksa di rumah saja. Pekerjaan banyak terkendala. Ada juga yang kena PHK. Mau tidak mau, mereka ini memang harus berpuasa selain karena kewajiban. Menahan nafsu akibat virus corona agaknya menjadi ujian tersendiri, di tengah himpit ekonomi.
Melawan Covid-19 tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kerja sama antar warga dengan saling peduli. Namun kemanusiaan kini dipertanyakan. Meski tak semua orang acuh, masyarakat banyak yang butuh. Solidaritas sesama umat manusia selalu dinanti.
Jika kita masih mempertahankan ego masing-masing, dan merasa asing dengan satu sama lain, siapakah yang akan menang di hari kemenangan nanti? Kita, corona, atau nafsu sementara?

Melawan Hawa Nafsu
Sudah saatnya hawa nafsu tidak hanya ditahan tapi juga dilawan.
Ketika terbesit hasrat buruk, mari kita lawan dengan melakukan hasrat baik. Di bulan Suci ini, ladang untuk berbuat baik sedang seluas-luasnya dihamparkan. Sekecil apapun itu, membantu orang lain sangat mudah dilakukan jika rida. Ketika itu pula, kita telah melawan hawa nafsu atas sikap egois terhadap hal-hal duniawi.
Rasulullah SAW bersabda,
أَفْضَلُ الْجِهَادِ أَنْ يُجَاهَدَ الرَّجُلُ نَفْسَهَ وَ هَوَاهُ

Artinya: “Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya” (Hadits shahih diriwayatkan oleh ibnu Najjar dari Abu Dzarr).
Memang, upaya melawan hawa nafsu bukan hal sepele untuk dilakukan. Namun kefanaan dunia harus kita sadari. Semua hal dimuka bumi ini tak abadi, hanya amal perbuatanlah yang akan menolong kita di kemudian hari.

Menjadi Diri yang Lebih Baik
Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Dan hari esok harus lebih baik dari hari ini.
Sejak kecil agaknya kita mendengar kata-kata ini. Namun istikamah memegang teguh prinsip tidak mudah. Tak heran, Nabi Muhammad SAW, mengingatkan umatnya jauh-jauh hari. Diriwayatkan oleh Al-Hakim, Rasul bersabda yang artinya,
“Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka."
Ramadan layaknya momentum terbesar selain akhir dan awal tahun untuk umat muslim berkontemplasi. Dengan merenungkan segala tingkah laku yang lalu, membuat kita semakin sadar bagaimana diri kita. Bersiap untuk menjalani hari berikutnya dengan lebih baik, akan menjadi tujuan ideal dalam beribadah.

Kiat Menang di Hari Kemenangan
Untuk melawan hawa nafsu, diperlukan kiat-kiat jitu. Berikut adalah cara yang patut dicoba.
1.    Tahan diri dari godaaan diskon besar-besaran
Bagi beberapa orang, di rumah saja menjadi alasan untuk semakin tidak bisa jauh dari gawai. Peluang ini dilihat dan dimanfaatkan dengan baik oleh pelaku usaha. Bagi perempuan, atau bahkan semua orang, godaan terbesar adalah melihat promo buy one get one, flash sale, diskon 50%, dan bujuk rayu lainnya.
Menahan diri dari godaan diskon tidak mustahil dilakukan. Kuncinya adalah berani mengatakan tidak (Wahyuni, 2018). Beberapa orang tergiyur meski tidak membutuhkan barang tersebut. Membeli barang jenis ini membuat kita menjadi boros. Bukankah hidup sederhana lebih baik. Uang yang dimiliki dapat digunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat. Misalnya membantu orang lain.
Jika sebelumnya disebutkan bahwa menahan saja tidak cukup, maka tindakan untuk melawannya adalah kembali mengingat esensi dari rezeki dan hidup kita. Jika itu masih juga jauh diangan dan duniawi masih menjadi tujuan, kita bisa fokus pada rencana finansial jangka panjang, salah satunya dengan investasi. Coba bayangkan berapa banyak orang yang terbantu dari investasi yang kita lakukan. Jadi, siap bilang tidak meski diskon?

2.    Tahan diri dari amarah karena bosan
Sebab orang menjadi marah salah satunya adalah bosan. Di rumah saja dengan bertatap muka langsung dengan orang itu itu saja, kadang membuat kita jenuh. Yang terjadi, hormon stres, termasuk adrenalin dan kortisol, mempercepat detak jantung dan pernapasan. Hal ini kemudian bisa memicu penyakit serius.
Menurut Dr. Farrah Agustin, terkadang kemarahan bisa baik untuk kita, jika ditangani dengan cepat dan diungkapkan dengan cara yang sehat. Namun, sebagian besar orang memiliki kemarahan yang tidak sehat. Terlalu sering marah bahkan dapat menyebabkan kematian.
Oleh karena itu, sebosan-bosannya kita di rumah, berpikir positif, mencoba menyikapi segala sesuatu dengan baik, dan bertindak dengan tenang adalah hal-hal yang dapat menghindarkan diri dari amarah. Mengisi kegiatan di rumah dengan keluarga misalnya, masak, bermain, bersantai, apapun itu jika dilakukan bersama seharusnya menambah kehangatan dalam rumah, bukan?

3.    Tahan diri untuk rebahan saja
Di rumah saja adalah salah satu cara untuk memutus rangkai penularan Covid-19. Namun bagi orang yang tidak bekerja, kadang malah rebahan saja. Waktu dibuat untuk berleha-leha. Sekadar melihat sosial media, e-commerce, atau situs nonton film. Apalagi ketika puasa memperkuat alasan demi menghemat tenaga.
Padahal seharusnya puasa menjadi salah satu momentum untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah.  Bagaimana kita bisa menang di hari kemenangan atau istilahnya fitrah kembali, jika hari ini saja lebih buruk dari hari kemarin. Bukankah rebahan saja menunjukkan bahwa hawa nafsu menguasai kita? Jangan biarkan diri kita kalah begitu saja.
Hawa nafsu seperti di atas akan selalu ada di bulan apapun. Tinggal manusia menggunakan hati dan pikirannya untuk melawan godaan-godaan tersebut. Dengan mengikuti minimal kiat-kiat yang ada, semoga kita dapat mewawas diri dan selalu waspada.
Mengutip kata Din Syamsuddin dalam Republika, puasa memiliki tiga dimensi penting. Pertama, dimensi ritual formal, di mana puasa dimaknai sebagai ritual mencegah dari segala sesuatu perbuatan fisik yang dapat membatalkan puasa. Kedua, dimensi ritual spiritual, untuk menjauhkan diri dari segala sifat buruk termasuk mengikuti nafsu. Ketiga, dimensi ritual intelektual, untuk lebih mengenal dan mencari tahu siapa sebenarnya diri kita.
Dari ulasan di atas, sudah seharusnya kita merenung lagi. Apakah puasa yang kita jalani benar-benar hakikat dari puasa itu sendiri? Lalu apakah kita benar-benar bisa menang di hari kemenangan nanti? Mari memperbaiki diri.


Pustaka
Agustin, Farah Dr. 2020. 4 Ways Anger is Killing You. https://www.drfarrahmd.com/2019/02/4-ways-anger-is-killing-you.html. Diakses pada 6/05/2020
Badrusalam, Lc. 2017. Jihad yang Paling Dasar. https://muslim.or.id/31073-jihad-yang-paling-dasar.html. Diakses pada 6/05/2020
Wahyuni, Andi Sri Akt. 2018. Beli Karena Butuh. Jakarta: Kompas Gramedia.
Wulandari, Indah. 2015. Ini Alasan Idul Fitri Disebut Hari raya Kemenangan. https://republika.co.id/berita/nrhhgd/ini-alasan-idul-fitri-disebut-hari-raya-kemenangan/. Diakses pada 6/05/2020

#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-6

Comments

Popular posts from this blog

5 Jamur yang Biasa Dibuat Mukbang Ini Wajib Kamu Coba

Pandemi Memaksa Orangtua Belajar Berkomunikasi

Jika Pandemi Adalah Penjara