Rindu Itu, Baik untuk Kita
Rindu. Sebagai perasaan kuat ingin bertemu, siapa sih yang tidak merindu saat ini?
Sepertinya
benar, satu-satunya obat rindu adalah temu. Tapi, bukankah temu bisa dilakukan
secara daring, jarak jauh? Toh, itu juga bertemu, mengobrol, bersenda gurau,
tetap bisa dilakukan meski tidak berpergian.
Beda
lagi ceritanya bagi orang-orang yang memiliki definisi khusus dari sebuah temu,
yang tidak hanya sekadar sua atau jumpa. Beberapa orang seolah menyakralkan
sebuah pertemuan, di mana harus ada kontak langsung, cipika cipiki,
berpelukan, dan minum teh bersama. Orang-orang inilah yang paling merana.
Tak
hanya itu, sepasang kekasih yang belum halal juga, dan yang akan menikah harus
ditunda. Terakhir, Kementerian Agama mengeluarkan putusan hingga 29 Mei tidak
menerima pelayanan akad, entah kalau nanti diperpanjang lagi.
Saat
ini, rindu hanya disampaikan lewat pesan singkat, sesekali panggilan video,
tapi tetap saja rasanya beda. Meski begitu, setidakkuatnya menahan rindu, rindu
itu baik untuk kita. Jika kita sadar, dari rindu kita bisa belajar banyak hal.
Berikut di antaranya:
1.
Menghargai diri
Percayalah rindu itu baik untuk kita-Tulus, Ruang Sendiri
Pernahkah
kita sadari, mungkin porsi memikirkan orang lain lebih banyak di hidup kita
ketimbang diri kita sendiri? Tidak semua orang memang. Kadang tuntutan
pekerjaan, tekanan rumah tangga, dan masalah-masalah lain, seolah menomorduakan
diri kita sendiri.
Di bulan ramadan ini sepertinya menahan rindu terlebih dahulu lebih tepat kiranya. Dengan begitu, kita bisa duduk sejenak, berkontemplasi dengan pikiran kita sendiri.
Di bulan ramadan ini sepertinya menahan rindu terlebih dahulu lebih tepat kiranya. Dengan begitu, kita bisa duduk sejenak, berkontemplasi dengan pikiran kita sendiri.
Memang perasaan rindu akan selalu datang menggebu, tapi justru
karena harus menunda temu, kita bisa meluangkan waktu untuk banyak hal selain
merindu. Misalnya, memikirkan hal lalu, merencanakan kedepan, dan mendekatkan
diri kepada Tuhan. Barangkali setelah masing-masing menghargai, kita bisa saling
mendoakan dari hati. Semoga Allah memberkati.
2.
Menghargai temu
Dan tunggulah aku di sanaMemecahkan celengan rinduku-Fiersa Besari, Celengan Rindu
Sebab
rindu, kita jadi banyak mengenang indahnya sebuah temu. Apalagi bertemu orang
tersayang; pasangan, ibu, keluarga, atau orang spesial lainnya. Jika sebelumnya
bertemu hanya membutuhkan niat, sekarang niat saja tidak cukup. Memaksakan
menebus rindu dengan temu di masa ini juga sangat membahayakan, tidak hanya
demi kita dan orang tersayang.
Oleh karena itu, orang-orang yang tidak bisa meluapkan rasanya
hanya dari kontak tidak langsung, akan menabung rindu untuk ditebus selepas
Covid-19. Bayangkan, betapa besarnya rindu yang kita simpan di pertemuan nanti.
Pasti akan banyak hal yang bisa diceritakan. Tak ada jemunya sebuah temu
setelah lama menanggung rindu.
3.
Menghargai waktu
Hubungan
kuat antara Covid-19 dengan rindu, adalah hikmah agar menghargai waktu.
Orang-orang yang merasa terkendala akibat ini akan merasa menyayangkan hal-hal
yang tidak dilakukannya di tempo lalu. Kenangan lebaran bersama keluarga
misalnya, kebersamaan bersama orang-orang tersayang, atau hal lain yang
sekarang tidak bisa dilakukan. Beberapa orang menyesal, meski mungkin lainnya
tidak.
Hikmah
ini patutnya kita sadari. Bukan hanya karena rindu, menghargai waktu adalah
keharusan. Jangan sampai kita terlena dengan kefanaan dunia. Sehingga melalaikan
tujuan hidup manusia. Itulah mengapa kita dianjurkan untuk berlomba-lomba dalam
kebaikan, seolah kita akan mati esok.
Benar
kiranya, tiada yang tahu apakah rindu kita akan terbalaskan temu? Jangankan
begitu, apakah kita bisa mengikuti hari ke lima belas ramadan dengan baik,
atau tidak? Apakah nanti kita masih bisa mengikuti sahur? Wallahu a’lam.
Perihal
waktu, Allah berfirman,
(١)وَالْعَصْرِ(٢)إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ(٣)إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa.Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholih dan saling menasihati supaya menaati kebenaran dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran.”(QS. Al ‘Ashr: 1-3)
Dari
ayat atas, semoga kita dapat bertafakur kembali. Di lain sisi, kita bisa
berikhtiar dengan menabung rindu, sambil menikmati sebagai hamba di setengah
Ramadan yang hampir lalu.
Rindu
adalah perasaan yang wajar. Namun jika rasa rindu yang kita rasakan berkepanjangan,
tahan, hampir semua orang merasakannya, bahkan mungkin memiliki situasi yang
lebih sulit. Mari kita salurkan rasa rindu pada hal-hal yang positif. Ambil hikmah dari ini semua, untuk makin mendekat kepada-Nya.
Sementara,
hanya mengetahui kabar bukankah jauh lebih baik daripada tidak sama sekali? Semoga
benar, rindu itu baik untuk kita. Di samping pertanda, agar kita waspada dan tidak terlena.
Pustaka
Besari, Fiersa. 2014. Celengan Rindu. https://www.musixmatch.com/. Diakses
pada 08/05/2020
CNN Indonesia. 2020. Sempat Ditutup, Kemenag Kembali Layani Akad
Nikah di KUA. https://m.cnnindonesia.com/nasional/20200424135236-20-496931/sempat-ditutup-kemenag-kembali-layani-akad-nikah-di-kua.
Diakses pada 08/05/2020
Muslim, Muhammad Nur Ichwan. 2010. https://muslim.or.id/2535-tafsir-surat-al-ashr-membebaskan-diri-dari-kerugian.html.
Diakses pada 08/05/2020
Tulus. 2016. Ruang Sendiri. https://www.musixmatch.com/.
Diakses pada 08/05/2020
#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-8

Comments
Post a Comment