Jika Pandemi Adalah Penjara

Pandemi memaksa semua orang di rumah saja, dan mengurangi mobilitas di luar. Bagi beberapa orang, pandemi adalah rezeki, ujian, adzab, atau bahkan mungkin penjara. Meski faktanya, karena Covid-19, beberapa narapidana dibebaskan dari penjara.
Penjara selalu dikonotasikan dengan hal negatif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, penjara adalah bangunan tempat mengurung orang hukuman; bui; lembaga pemasyarakatan. Namun, dikutip dari Republika, dalam bahasa arab, penjara artinya menahan. Menahan dimaksdukan mengurangi dan membatasi segala kebebasan seseorang yang sedang dikurung, karena suatu pelanggaran.
Di lain sisi, penjara bukan hanya tempat orang-orang yang bersalah. Penjara juga kerap digunakan untuk membungkam orang-orang yang berani melawan rezim. Beberapa tokoh muslim hingga pahlawan di Indonesia pernah menjadi tahanan di penjara.
Beberapa orang ini, kemudian berhasil membuktikan, bahwa penjara hanya mengurung jasmani. Sedangkan kreatifitas berpikir seseorang tidak terhenti di sana. Di dalam penjara seseorang justru lebih dekat kepada Tuhan. Mereka memiliki waktu lebih untuk berpikir jernih tanpa tekanan duniawi. Oleh karena itu, dalam firman Allah surat Yusuf ayat 33, Nabi Yusuf AS pernah berkata:
    قَالَ رَبِّ السِّجۡنُ اَحَبُّ اِلَیَّ مِمَّا یَدۡعُوۡنَنِیۡۤ اِلَیۡہِ ۚ وَ اِلَّا تَصۡرِفۡ عَنِّیۡ کَیۡدَہُنَّ اَصۡبُ اِلَیۡہِنَّ وَ اَکُنۡ مِّنَ الۡجٰہِلِیۡنَ
"Yusuf berkata: Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada meme nuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika Engkau hindarkan daripada aku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh." (QS. Yusuf 12: 33).
Menurut tafsir Kementerian Agama RI, ayat ini menerangkan bagaimana keteguhan hati dan kekuatan iman Yusuf yang tidak mempan segala bujukan dan rayuan. Bagi Nabi Yusuf, penjara yang gelap lagi sempit itu lebih baik daripada dalam istana, menghadapi perempuan-perempuan yang cantik yang selalu menggoda dan mengajak untuk memenuhi keinginan hawa nafsunya.
Jika dipikir berulangpun, ada benarnya. Penjara lebih baik dibandingkan kehidupan di luar yang penuh godaan. Tak heran, menurut Casofa (2016) dalam bukunya Berkarya tanpa Jeda, karya-karya terpuji banyak dihasilkan dari balik jeruji. Diantaranya terdapat Sayyid Quthb yang membuat kitab tafsir Fii Zhilalil Qur’an, Ibnu Taimiyyah dan fatwa-fatwanya, hingga Muhammad Natsir yang membuat buku Selekta Dakwah.
MasyaAllah. Begitulah kuasa Allah dalam memelihara kebenaran yang ada di bumi. Bahkan melalui orang-orang yang ada di penjara sekalipun. Banyak ulama yang kemudian melahirkan karya-karya fenomenal.
Salah satunya adalah Haji Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka). Beliau terus mengembangkan pemikirannya untuk peradaban Islam meski di penjara. Salah satunya dengan berhasil menulis 30 jilid tafsir yang kini dikenal sebagai tafsir Al-Azhar.
Jika pandemi adalah penjara, karena berhasil memenjarakan orang-orang tak bersalah di dalam rumah masing-masing, apakah kita bisa berkarya seperti orang-orang tersebut di atas?
Melihat fenomena saat ini, tentu orang-orang yang giat berkarya dalam dunia literasi akan berlomba-lomba menghasilkan karya. Sementara orang-orang yang kurang tertarik dalam kepenulisan, lebih memilih untuk membaca. Keduanya merupakan kegiatan positif yang bisa dilakukan selama pandemi. Namun, perlu kita tilik kembali, apakah tulisan kita memiliki nilai? Apakah bacaan kita menambah pengetahuan baru? Atau justru sebaliknya?
Berkarya, dalam hal ini menulis memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sebuah karya dinilai dari cara penyampaian dan kontennya. Semakin luas wawasan seseorang, maka semakin dianggap bermanfaat karyanya.
Untuk penulis di seluruh Indonesia, Ramadan di tengah pandemi menjadi momen plus untuk berpikir kembali mengenai karya kita. Karena sebaik-baiknya peninggalan adalah tulisan, dan sebaik-baiknya tulisan adalah yang bermanfaat bagi pembacanya.
Jika memang pembaca menganggap kita sedang di penjara, semoga kita segera bebas dari sana, dengan membawa karya tentunya. Semoga.

Pustaka
_____.___. QS. Yusuf (Nabi Yusuf) – surah 12 ayat 33 [QS. 12:33]. https://risalahmuslim.id/quran/yusuf/12-33/. Diakses pada 14/05/2020
Casofa, Fachmy. 2016. Berkarya tanpa Jeda. Jakarta: Gramedia
Soraya, Dea Alvi. 2018. Penjara dalam Sejarah Islam. https://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/18/04/01/p6if6h313-penjara-dalam-sejarah-islam.  Diakses pada 14/05/2020

#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-14

Comments

Popular posts from this blog

5 Jamur yang Biasa Dibuat Mukbang Ini Wajib Kamu Coba

Pandemi Memaksa Orangtua Belajar Berkomunikasi