Corona: Ibarat Pedang Bermata Dua (Bagi Para Pedagang)
![]() |
| Ilustasi cara pandang seseorang |
Merebaknya
Covid-19 memang memiliki dampak buruk terhadap segala sektor kehidupan manusia.
Selain kesehatan, dampak signifikannya menyerang sektor perekonomian.
Masyarakat kelas menengah ke bawah yang menjadi pedangang, salah satu yang juga
merasakan dampaknya.
Beraktivitas
dari rumah saja membuat jalan-jalan di kota besar sepi. Toko, kedai, warung,
lesehan, harus tutup lantaran tak ada pembeli. Banyak pedagang yang mengeluh,
ingin pulang kampung tapi tak ada biaya. Sedangkan bertahan di tempat tinggal
sementara, juga tidak menyenangkan, bukan?
Di
lain sisi, industri kecil dan rumahan, atau istilah bekennya Usaha Kecil,
Mikro, dan Menengah (UMKM) atau sering disebut UKM, justru berkembang pesat.
Pasalnya, pola konsumsi masyarakat berubah dan meningkat signifikan. Masyarakat yang sudah mulai bosan akan mencari hiburan. Misalnya dengan berbelanja secara daring. Orang-orang
yang tidak terbiasa memasak, juga memilih memesan makanan.
Stay at Home Economy
Istilah
yang disampaikan oleh Teten Masduki, Menteri Koperasi, dan Usaha Kecil dan
Menengah ini tentu berdasar. Industri perdagangan elektronik atau e-commerce
kian berkembang, minat beli masyarakat juga terus meningkat. Kemudahan transaksi
dalam jaringan (daring) mempertemukan pedagang dan pembeli tanpa bertatap muka.
Selain
karena Covid-19, cepat atau lambat stay at home economy ini akan terjadi
di Indonesia. Pada tahun 2019 saja, detikfinance mengabarkan hasil penelitian yang
dilakukan oleh SIRCLO. Fakta yang tak lagi mengejutkan bahwa rata-rata tiap orang
di Indonesia berbelanja di marketplace sebanyak 3-5 kali dalam sebulan,
dan menghabiskan hingga 15% dari pendapatannya.
Menurut
Ketua Umum Himpunan Penyewa Pusat Perbelanjaan indonesia (Hippindo), transaksi daring
juga melonjak sebesar 50 persen karena Covid-19 ini. Namun, jumlah tersebut baru menggantikan 3%
dari total penjualan offline yang turun.
Perdagangan
melalui e-commerce seharusnya dapat digunakan sebagai solusi di tengah
pandemi. Selain memudahkan pembeli, penjual juga akan lebih fleksibel dalam
mengatur persediaan, proses produksi, dan biaya-biaya lainnya.
Para
pedagang offline harus mulai beranjak dan memutar otak. Mencari waktu
yang tepat untuk melakukan pivoting-mengubah model bisnis-adalah hal yang
penting.
Mengalirkan Rezeki Selama Pandemi
Berikut
adalah kiat-kiat yang wajib di coba oleh pedagang atau pelaku usaha.
1.
Tingkatkan pemasaran
Pemasaran
adalah kunci bagi UKM yang baru merintis usahanya secara daring. Jika
menggunakan e-commerce belum memungkinkan, solusi tercepatnya adalah
menggunakan media sosial yang dipunya. Jika sebelumnya pemasaran dilakukan
dengan menyebarkan poster berupa kertas, saat ini bisa dialihkan menjadi status
atau cerita di sosial media.
Dengan
menggunakan startegi promosi yang menarik, tentu membuat calon pembeli kepincut.
Give away atau bonus sering dicari. Potongan harga juga digemari oleh
masyarakat. Meningkatkan promosi dan beriklan terbilang efektif di masa ini.
Jika dirasa perlu, pedagang dapat mengikuti kelas daring yang
membahas tentang strategi-strategi digital dalam berbisnis.
2.
Pertahankan kualitas
Meskipun
beralih dari offline menjadi online, para pedagang juga harus
mempertahankan kualitasnya. Sebagai upaya dalam memelihara langganan, pedagang
dituntut untuk memberikan jaminan kesesuaian produk dengan deskripsi hingga
keamanannya.
Oleh karena itu, sebelum melakukan pivoting, pedagang harus
benar-benar mempertimbangkan dengan matang. Penilaian pembeli dapat mempengaruhi
minat para calon pembeli lainnya.
3.
Branding produk
Brand
produk juga mempengaruhi keputusan calon customer untuk
membeli. Branding tidak hanya menyangkut merek produk, namun bagaimana
pedagang mengenalkan produk tersebut ke masyarakat adalah poinnya.
Nilai sebuah produk memang sering diabaikan oleh para pembeli yang
membeli karena butuh. Di lain sisi, pembeli yang bijak akan memperhatikan ini
sebelum memutuskan bertransaksi. Untuk itu, para pedagang harus jeli dalam hal
ini.
4.
Buat laporan keuangan
Untuk
mengatur keuangan sebuah usaha dan memastikan bahwa usaha tersebut untung
adalah melihat laporan keuangannya. Para pedagang harus paham pos-pos
yang termasuk modal capital dan working capital. Memasukkan biaya
yang berkaitan dengan penjualan ke dalam harga pokok produksi juga sangat
penting.
Jangan
tergesa dalam menentukan harga. Pedagang yang belum terlalu paham mengenai
laporan keuangan cenderung rugi. Setidaknya, laporan keuangan yang dibutuhkan
adalah laporan posisi keuangan, laba/rugi, perubahan modal, dan arus kas.
Kiat di atas mungkin sudah dicoba oleh para pedagang. Namun yang
menjadi pertanyaan, mengapa tidak mengubah keadaan? Tentu semuanya butuh
proses, tidak ada yang instan. Apapun tipsnya tidak akan manjur jika tidak
dilakukan secara bersamaan dan konsisten.
Memang,
akibat yang ditimbulkan oleh virus corona ini ibarat pedang bermata dua, terdapat
dua sisi; baik dan buruk; menguntungkan atau merugikan. Hal ini bergantung pada
cara pandang, yang kemudian menentukan cara bersikap pedagang itu sendiri.
Tumbang atau berkembang adalah sebuah pilihan yang masih bisa
diupayakan oleh siapa saja, bukan hanya pedagang. Memandang corona sebagai
peluang juga tidak sepenuhnya salah, bukan?
Pustaka
Hamdani, Trio. 2019. Hasil Survei: Orang Indonesia Belanja Online 5
Kali/Bulan. https://finance.detik.com/industri/d-4805460/hasil-survei-orang-indonesia-belanja-online-5-kalibulan
. Diakses pada 04/05/2020
Hardani Triyoga, Syaefullah. 2020. Pandemi Corona, Konsumsi Masyarakat
Beralih ke Online. https://www.vivanews.com/berita/nasional/47261-pandemi-corona-konsumsi-masyarakat-beralih-ke-online.
Diakses pada 04/05/2020
Huda dan Pebrianto. 2020. Aktivitas Belanja Daring Melonjak
Selama Masa Pandemi. https://koran.tempo.co/read/ekonomi-dan-bisnis/451848/aktivitas-belanja-daring-melonjak-selama-masa-pandemi. Diakses
pada 04/05/2020
#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-4

Comments
Post a Comment