Tolong Para Guru Jangan Gegana
Tolong Pak, Bu, jangan gegana. Gelisah, galau, dan merana justru membahayakan kesehatan Bapak Ibu. Tenang. Tarik Napas. Belajar pelan-pelan. Jangan gelagapan.
Sejak
kurikulum 2013 diterapkan pada sistem pendidikan di Indonesia, sebenarnya para
guru sudah dituntut untuk berani mengenal lebih jauh mengenai pemanfaatan
teknologi informasi. Setelah berjalan enam tahun, semua sekolah telah mengikuti
instruksi. Namun beberapa di antaranya masih ditemukan kendala mendasar, sehingga
belum terimplementasi maksimal. Secara output
berhasil dilakukan, tetapi belum sepenuhnya dalam proses.
Saat
ini, semua guru dituntut untuk bisa menggunakan teknologi. Setidaknya membuat
google form sebagai bukti penilaian sehari-hari selama siswa belajar di rumah. Lalu, apakah semua guru berhasil
mengikuti langkah ini?
Jika
ditilik lebih jauh, sebab gegananya bapak dan ibu guru ini tentu berdasar. Mereka merasa
mempunyai tanggung jawab untuk tetap mencerdaskan generasi penerus. Guru yang
paling merasa khawatir adalah mereka yang masih belum menguasai teknologi
sebagai pendukung bahan ajar dan media penilaian.
Berkaitan
dengan hal ini, pelatihan-pelatihan yang sudah dilakukan sebelumnya, juga
dianggap kurang berhasil dalam meningkatkan kemampuan guru. Hal ini diungkapkan
oleh Ikatan Guru Indonesia (IGI) bahwa pelatihan-pelatihan atau bimbingan
teknis yang selama ini digelar oleh Kemendikbud dengan mengundang guru-guru di
daerah hanya menghamburkan anggaran saja. Selain itu, dikutip dari jpnn.com,
menurut Indra Charismiadji 97,5% guru di Indonesia tak paham Teknologi
Informasi (TI).
Disamping itu, menurut Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI),
pelatihan guru harus menggunakan cara baru yaitu 4B1E, yakni berbobot,
berkualitas, bermakna, bermanfaat, dan evaluasi. Sehingga dapat berorientasi
pada kompetensi pedagogik, seperti yang menjadi fokus Kemendikbud.
Nah, jika sudah
dilihat fakta ini, apa yang bisa dilakukan?
1.
Hilangkan stigma tradisional guru mengenai TI
Beberapa
guru menganggap mereka adalah fasilitator utama dalam proses Kegiatan Belajar
Mengajar (KBM), dan penggunaan TI bisa berdampak negatif bagi siswa. Pemikiran
yang cenderung kolot tersebut kadang kala hanya digunakan sebagai dalih atas
ketidakmampuan guru dalam menggunakan TI secara optimal dalam KBM.
Selain
itu, faktor yang sangat mempengaruhi kemampuan guru adalah usia. Mereka yang berada dalam rentang 5-10 tahun lagi akan
pensiun, tergolong dalam usia tua. Guru-guru inilah yang sering mendapat
kendala dalam menggunakan TI, baik untuk media pembelajaran hingga penilaian. Sebab, mereka masih tergolong gagap teknologi.
Stigma
lama ini harus dihilangkan oleh para guru. Apapun alasannya, mau tidak mau,
guru saat ini harus mau belajar menggunakan TI. Usia bukanlah halangan untuk
belajar, bukan?
2.
Ubah metode pelatihan
Faktanya,
pelatihan secara terpusat dianggap tidak efektif. Sebelumnya, guru hanya
memandang pelatihan sebagai formalitas untuk mendapatkan sertifikat. Hal ini karena guru yang
datang belum tentu paham dasar berteknologi. Masalah utamanya terletak pada keberagaman tingkat pengetahuan guru mengenai ini.
Sudah
saatnya satuan kerja (satker) memiliki sebuah sistem pelatihan sendiri. Sebab
hanya satker yang mengerti kemampuan guru yang ada di wilayahnya. Pelatihan juga harus dilakukan secara daring dan dari
rumah masing-masing. Tentu hal ini adalah tantangan tersendiri bagi guru. Mereka
yang merasa kesulitan akan meminta bantuan keluarga dan tetap bisa mengikuti
setiap pelatihan yang diadakan oleh satker masing-masing, sembari di rumah saja.
3.
Fokus pada kebutuhan
Perlu
dilakukan analisis mengenai tingkat kemampuan masing-masing guru untuk mengelompokkannya dalam katagori. Diharapkan dengan pengelompokkan, pelatihan
yang akan diberikan akan tepat sasaran, sesuai dengan kemampuan dasar yang
dimiliki.
Pelatihan
yang sesuai diharapkan mampu menjawab problematika guru. Untuk itu dibutuhkan pelatihan
yang berkaitan dengan penggunaan teknologi informasi sebagai media pembelajaran
dan penggunaan sistem penilaian terintegrasi berbasis online. Kedua jenis pelatihan tersebut kemudian dibagi lagi dalam
beberapa kelompok kecil. Pelatihan ini dapat di-breakdown dalam beberapa materi sesuai kebutuhan. Jika
sudah demikian, guru akan belajar memahami dan mempraktikkannya satu per satu.
Agar tidak gegana, guru harus pandai
menyikapi fakta. Mana fakta yang harus ditakuti dan mana fakta yang harus
dihadapi. Pada dasarnya fakta ini memang harus dihadapi oleh guru. Di samping
itu, dibutuhkan sikap proaktif dari orang tua sebagai teman belajar anaknya
selama di rumah.
Beberapa
orang tua wali kadang tidak turut menyadari. Bahkan seolah ikut membuat guru makin gegana. Misalnya ingin pembelajaran daring secara tatap muka, mengerjakan
soal seperti kuis, dan masih banyak lagi contoh lainnya, yang nyatanya ada.
Memang,
orangtua wali memiliki hak untuk menginginkan pembelajaran anaknya seefektif
mungkin walau dari rumah. Pasalnya, menurut Organisasi Pendidikan, Keilmuan,
dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa atau UNESCO, hampir 300 juta siswa di
seluruh dunia terganggu kegiatan sekolahnya akibat Covid-19. Hal ini juga dikhawatirkan dapat mengancam
hak-hak pendidikan anak-anak di masa depan.
Tentu, guru juga sedang berupaya mencegah hal ini terjadi. Salah satunya dengan belajar TI. Namun, perlu disadari juga, bahwa kerja
sama antara guru dan orang tua dalam memastikan terpenuhinya hak pendidikan
anak adalah sebuah keharusan. Dengan penggunaan TI sebagai media dan sistem penilaian berbasis online,
diharapkan guru dan siswa sama-sama dimudahkan dalam rangka KBM dari rumah ini.
Pustaka
Alamsyah, Ichsan E. 2019. FSGI
Sarankan Pelatihan Guru Gunakan Cara Baru. https://www.republika.co.id/berita/nasional/umum/19/05/13/preuxf349-fsgi-sarankan-pelatihan-guru-gunakan-cara-baru/ .
Diakses pada 03/05/2020
Awaliyah, Gumanti. 2018. Pelatihan
Guru oleh Kemendikbud Dinilai Penghamburan Dana. https://www.republika.co.id/berita/pendidikan/education/18/11/16/pi9u1i335-pelatihan-guru-oleh-kemendikbud-dinilai-penghamburan-dana/.
Diakses pada 03/05/2020
Jpnn.com. 2019. Indra
Charismiadji : 97,5 % Guru tak Paham Teknologi Informasi. https://m.jpnn.com/news/indra-charismiadji-975-guru-tak-paham-teknologi-informasi/ .
Diakses pada 03/05/2020
KOMPAS.TV. 2020. Sorotan: Dampak Corona ke Dunia Pendidikan. https://www.kompas.tv/article/74608/sorotan-dampak-corona-ke-dunia-pendidikan.
Diakses pada 03/05/2020
#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-3
#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-3
Comments
Post a Comment