Memegang Teguh Falsafah Padi

Ramadan adalah salah satu momen yang tepat untuk merenung. Mulai dari hal yang dianggap kecil sampai besar, hajat hidup pribadi hingga menyangkut orang lain. Beberapa kurun waktu terakhir misalnya, isu soal krisis pangan mencuat.
Indonesia adalah negara maritim, yang selalu mengimpor kebutuhan pokok, utamanya beras. Kualitas dan kuantitas beras dari petani lokal dinilai tak sebanding dengan harga dan jumlah kebutuhannya. Alih-alih mencukupi kebutuhan pangan, pemerintah seolah abai dengan tidak fokus untuk menyelesaikan masalah di sektor ini.
Lucunya lagi, pemerintah justru telah dan akan membabat alas alias hutan untuk dibuka menjadi areal persawahan yang telah dan akan ditanami padi. Mirisnya, areal ini bakal dikelola oleh perusahaan, yang nantinya para petani menjadi buruhnya.
Masalah pangan, seolah tak ada habisnya. Apalagi saat krisis di tengah pandemi. Fakta ini tentu wajib menjadi perhatian kita sebagai manusia. Selain karena manusia adalah makhluk yang paling banyak membutuhkan asupan, utamanya karbohidrat.
Membahas soal padi dan petani, sebenarnya jika kita mampu memahami dan mengilhami falsafah padi, kita dapat bersikap selayaknya sebagai manusia. Bukan berarti dari ulasan di atas, lalu menganggap beberapa oknum bukan 'manusia'.
Padi adalah tanaman yang banyak mengandung pelajaran. Filosofi yang paling terkenal dari padi adalah semakin berisi semakin merunduk. Artinya, seseorang dianggap baik apabila semakin tinggi usia atau kemampuannya, ia semakin rendah hati. Dari sini, orang tersebut dinilai kematangannya dari sikap yang ditunjukkan. Setiap orang tidak sepatutnya bersikap sombong hanya karena apa yang dimiliki.
Menerapkan falsafah padi memang tak semudah melihat padi merunduk dan mulai menguning. Karena padi adalah tumbuhan dan manusia adalah manusia. Beberapa orang merasa bahwa dengan nafsu yang kita miliki ini, seolah membuat kita lupa dengan falsafah ideal yang kita punya sendiri. Misalnya, ketika masih sekolah sangat idealis dan kritik kebijakan pemerintah yang nyeleweng, kemudian setelah dewasa dan masuk pemerintahan, justru menjadi oknum yang harus dikritik. Apa benar kita sudah tidak mampu memegang teguh falsafah yang dipunya?
Sejatinya, apapun itu yang dianggap sebagai pandangan hidup harus dipahami secara penuh agar mampu mengilhami dan menerapkannya dalam kehidupan nyata. Selain itu, diperlukan korelasi keyakinan antara otak dengan perasaan. Artinya, pemahaman ini tidak cukup hanya dipahami, namun harus terdapat kontak batin antara pemahaman dengan falsafah yang ingin diterapkan.
Jika ditilik lebih dalam, falsafah padi ini dapat dirupakan sebagai bentuk kepasrahan diri seorang hamba kepada Penciptanya. Ketika hamba menadapatkan nikmat, ia akan bersyukur dan menggunakan nikmat tersebut sebaik mungkin di jalan Allah. Sebaliknya, ketika mendapat cobaan, ia juga akan bersyukur dan bertawakal kepada-Nya. Semua hal disikapi dengan rendah hati sebagai seorang hamba, tanpa merendahkan siapapun. Sehingga semua orang mampu mengalahkan nafsunya sendiri.
Pelajaran penting kedua dari padi, adalah tentang kebermanfaatan terhadap sesama. Padi dapat disajikan ke dalam beberapa jenis olahan serta dipadukan dengan hidangan lainnya. Artinya, manusia seharusnya mudah adaptif dan memiliki toleransi yang tinggi. Konkritnya, adalah peduli. Dari sini, manusia wajib meninjau ulang fungsinya sebagai khalifah. Pemimpin di muka bumi artinya orang yang berdampak positif terhadap lingkungannya. Karena setiap orang adalah pemimpin, kita memiliki tanggung jawab atas dampak perilaku kita. Bahkan, abai juga termasuk perilaku. 
Jika saat ini, hampir sebagian besar sumber karbohidrat diperoleh dari padi, kita harus membuka ingatan kita tentang biologi atau sejarah, bahwa sumber karbohidrat di Indonesia tidak hanya dari padi.
Padi memang mengajarkan kita banyak hal. Apalagi petaninya. Tapi, bukan berarti karena padi, semua orang harus makan padi. Yang tepat adalah, karena padi, justru kita harus belajar dari padi.
Memegang teguh falsafah padi, ibarat memegang amanah, juga tujuan hidup. Semoga kita bisa belajar dari padi. Entah esok atau nanti, kita berbuka atau sahur dengan sagu, sorgum, atau umbi. Mari kita doakan, agar negeri dan rakyatnya tetap aman meski dilanda pandemi. Juga bumi, masih tetap sabar menerima tingkah kita sebagai manusia yang katanya berhati. Astagfirullah.

#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-18

Comments

Popular posts from this blog

5 Jamur yang Biasa Dibuat Mukbang Ini Wajib Kamu Coba

Pandemi Memaksa Orangtua Belajar Berkomunikasi

Jika Pandemi Adalah Penjara