Belajar Hidup dari Petani


Menengok krisis pangan melalui dokumenter Watchdoc Documentary
Dari sekian aktivitas selama work form home, sesekali kita pasti pernah menonton video di YouTube. Bukannya hendak mempromosikan aplikasi ini, namun salah satu konten yang ada di sana mengingatkan kita tentang keadaan pertanian di Indonesia.
Petani yang katanya salah satu profesi penting bagi keberlangsungan hidup manusia, hampir selalu dianggap remeh. Padahal, melalui bertani, nenek moyang mampu bertahan hidup, setelah ketersediaan pangan di bumi semakin menipis.
Sejarah pertanian di Indonesia memang memiliki catatan kelam. Dari zaman penjajahan hingga kini, petani masih memegang peran penting dalam kehidupan masyarakat. Namun hampir selalu mendapatkan perlakuan yang mendiskriditkan peran pentingnya itu.
Diskriminasi terhadap petani masih banyak ditemui. Bahkan bisa dikatakan dari Sabang sampai Merauke. Diskriminasi ini tak bisa dianggap remeh, mulai dari anggapan tradisional soal kemiskinan petani dan intelektualitas yang rendah, hingga kriminalisasi atas perampasan hak-hak petani.

Petani: metani ala lan dumadi
Mencoba mengulik mengenai anggapan sebelah petani indonesia, sebenarnya semua orang bahkan presiden sekalipun, layak belajar dari petani.
Metani ala lan dumadi (bahasa Jawa) atau bahasa Indonesia-nya mencari dengan seksama keburukan dan kejadian, berarti belajar atas keburukan yang ada dan telah terjadi agar tidak terulang kembali. Petani adalah orang yang paling terdidik untuk metani ala lan dumadi. Tanpa kegiatan yang disebut petan atau metani, tanaman utama akan terganggu pertumbuhannya karena hama. Petani juga belajar dari pengalamannya dalam bercocok tanam, untuk menghadapi situasi tak menentu.
Dari kegiatan metani ala lan dumadi, petani juga menjadi sosok yang bijak dalam memilah dan memilih sikap. Meskipun terdapat stigma dan tekanan terhadapnya, para petani tetap menjunjung rasa cinta tanah air. Tanpa rasa cinta tanah air yang tinggi, masyarakat tidak akan bertahan untuk tetap menjadi petani. Jika diambil hati, masyarakat akan berhenti dan mogok masal menjadi petani. Tentu, tak bisa bayangkan bagaimana jadinya Indonesia. Bahkan dalam kondisi seperti saat ini, pangan tetaplah garda terdepan dalam menangani krisis apa saja.
Petani adalah orang yang paling legawa. Petani bersabar dan menerima atas apa yang Allah karuniakan kepada mereka. Hasil panen yang tak menentu, tak menjadi penyebab mereka mendemo Tuhan yang mendatangkan musibah. Petani justru melakukan muhasabah diri atas cobaan yang diberikan. Misalnya saat terjadi penggusuran lahan, masyarakat jstru menangis-nangis menyebut asma Tuhan hingga bersalawat bersama. Subhanallah.

Belajar memahami hidup
Belajar memahami hidup dari petani, bisa dilihat dari beberapa sisi. Agaknya sistem tanam dan tuai adalah kegiatan terpentingnya. Apa yang kita tanam, dengan hati sungguh, dengan hati separuh, atau dengan hati tak utuh, berpengaruh langsung terhadap apa yang akan kita tuai. Perilaku seseorang ke orang lain, mempengaruhi bagaimana orang lain bersikap kepada orang tersebut.
Petani sebagai penyokong tegaknya lumbung negeri, seperti pihak yang terlupakan. Dari sinilah pelajaran juga bisa digali, tentang keikhlasan, tentang rendah hatinya seorang petani. Hal ini juga merupakan anjuran Allah SWT sebagai hambanya yang beriman. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Furqan ayat 63:
وَعِبَادُ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى ٱلْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ ٱلْجَٰهِلُونَ قَالُوا۟ سَلَٰمًا
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.”
Keyakinan bahwa Allah akan memberkati apapun yang diusakan oleh hamba-Nya, menjadi pemicu semangat para petani. Di dalam prinsip tanam dan tuai, juga terdapat kepasrahan diri seorang hamba. Ketika menadapat nikmat, ia akan bersyukur dan menggunakan nikmat tersebut sebaik mungkin di jalan Allah. Sebaliknya, ketika mendapat cobaan, ia juga akan bersyukur dan bertawakal kepada-Nya.
Oleh karena itu, sudah jelas mengapa semua orang layak belajar dari petani. Petani adalah orang yang mencintai dengan sungguh. Ia tak berharap untuk dicintai balik. Seperti bumi, yang diabaikan dan dilukai, namun tetap memberi versi terbaiknya.
Dua puluh Ramadan kali ini, mari kita ambil pelajaran dari petani, yang mampu metani ala lan dumadi dalam diri. Semoga kita adalah pelopor, agar diskriminasi hilang, kejahatan berhenti, dan bumi tetap menjadi nikmat yang Allah anugrahkan untuk semua makhluk-Nya. Yakin bersama, sektor pertanian di Indonesia makin jaya dan petaninya juga sejahtera. Semoga.

Pustaka
_____.___. Quran Surat Al-Furqan Ayat 63. https://tafsirweb.com/6319-quran-surat-al-furqan-ayat-63.html. Diakses pada 13/05/2020
Basuki, Amron. 2016. Belajar dari Para Petani. http://www.dakwatuna.com/2016/08/28/82356/belajar-dari-para-petani/#ixzz6MFwTM752. Diakses pada 13/05/2020
Watchdoc Documentary. Negara, Wabah, dan Krisis Pangan. https://youtu.be/ZOBkJzC0LFg. Diakses pada 12/05/2020


#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-13

Comments

Popular posts from this blog

5 Jamur yang Biasa Dibuat Mukbang Ini Wajib Kamu Coba

Pandemi Memaksa Orangtua Belajar Berkomunikasi

Jika Pandemi Adalah Penjara