Posts

Showing posts from May, 2020

Menjelajah Waktu Melalui Buku

Image
Setiap buku yang telah dibaca, memiliki kesan tersendiri. Bahkan mungkin, di antara kita, masih mengingat beberapa yang dianggap favorit. Apapun bukunya, akan memiliki pembaca yang kemudian menyimpan kenangannya bersama buku itu. Jika dipikir-pikir, kehidupan kita tak bisa lepas dari buku. Mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) kita dikenalkan dengan buku bergambar, lalu di sekolah kita bertemu dengan buku pelajaran, dan di luar dari itu kita butuh membaca buku untuk menambah referensi pengetahuan hingga sekadar hiburan. Buku-termasuk di dalamnya buku tulis, buku gambar, komik, novel, esai, resep masak, dan hal lainnya yang termasuk definisi buku-memiliki ruang tersendiri dalam ingatan kita. Bagi orang yang melawati PAUD, mulai belajar mengenal dan mengingat warna dan huruf, dari buku bergambar yang dicetak besar dan bisa diwarnai atau ditebali itu. Atau di antara kita yang tidak pernah PAUD secara formal, tentu masih ingat buku paket bahasa Indonesia yang dicetak di kerta...

Batal Halal di Malam Sembilan

Tetangga saya, salah satu orang yang terpaksa batal halal di malam sembilan. Sebut saja Suci. Suci dan pacarnya sudah menjalin hubungan sekitar enam tahun, dan mantab menikah tahun ini. Keluarga mereka jauh-jauh hari menghitung soal weton, entah cocok atau tidak-saya kurang paham-yang jelas mereka memutuskan untuk menikah di hari baik itu.   Eh tiba-tiba, Covid-19 merebak, keluarlah peraturan kalau tidak bisa menikah dulu. Duh, entah bagaimana perasaan mereka. Malam sembilan adalah malam yang paling dinanti oleh hampir sebagian besar sejoli Jawa, yang beragama Islam. Malam ke 29 Ramadan atau sering disebut malam sembilan, dianggap sebagai pemutihan segala halang rintang yang menjadi batasan menikah sepasang kekasih, yang keluarganya memegang teguh budaya Jawa dan sangat mempercayai weton. Pasti di antara kita pernah mendengar kisah sepasang kekasih yang batal nikah hanya karena jumlah perhitungan wetonnya buruk, bukan? Entah mendengar langsung, atau melalui sebuah cuitan ya...

Memegang Teguh Falsafah Padi

Ramadan adalah salah satu momen yang tepat untuk merenung. Mulai dari hal yang dianggap kecil sampai besar, hajat hidup pribadi hingga menyangkut orang lain. Beberapa kurun waktu terakhir misalnya, isu soal krisis pangan mencuat. Indonesia adalah negara maritim, yang selalu mengimpor kebutuhan pokok, utamanya beras. Kualitas dan kuantitas beras dari petani lokal dinilai tak sebanding dengan harga dan jumlah kebutuhannya. Alih-alih mencukupi kebutuhan pangan, pemerintah seolah abai dengan tidak fokus untuk menyelesaikan masalah di sektor ini. Lucunya lagi, pemerintah justru telah dan akan membabat alas alias hutan untuk dibuka menjadi areal persawahan yang telah dan akan ditanami padi. Mirisnya, areal ini bakal dikelola oleh perusahaan, yang nantinya para petani menjadi buruhnya. Masalah pangan, seolah tak ada habisnya. Apalagi saat krisis di tengah pandemi. Fakta ini tentu wajib menjadi perhatian kita sebagai manusia. Selain karena manusia adalah makhluk yang paling banyak membu...

Semua Orang Akan Baper pada Masanya

Image
Kalimat-dalam gambar-itu tercetus ketika beberapa orang menceritakan keresahannya tentang anggapan orang lain, atas sikap baper yang ditunjukkannya pada khalayak. Memang, karena kita adalah manusia biasa, kita pasti memiliki kerapuhan sendiri perihal perasaan kita. Oleh sebab itu, sangat wajar bila kita baper akan suatu hal. Jika diingat-ingat, sepertinya baru beberapa tahun terakhir, istilah baper familier digunakan. Tak heran, salah satu kata yang sering dianggap slang ini ternyata sudah termuat di Kamus Besar Bahasa Indonesia. Baper memiliki pengertian (ter)bawa perasaan; berlebihan atau terlalu sensitif dalam menanggapi sesuatu hal. Saking digandrunginya istilah ini, beberapa orang menganggap semua respon yang dikeluarkan orang lain adalah bentuk dari kebaperan. Sampai Sujiwo Tedjo pernah mengatakan: “Lama-lama orang males romantis karena nanti disebut galau. Males peduli takut disebut kepo. Males mendetail takut dibilang rempong. Males mengubah-ubah point of view dalam d...