Sebab Buku Menjadi Penting di Masa Pandemi

Bermain dengan Buku atau Bermain dengan Gawai?
Kalau diminta untuk memilih, beberapa orang akan memilih bermain dengan buku. Mungkin kamu juga. Karena kita sama-sama sepakat bahwa buku adalah jendela ilmu. Tapi itu dulu. Jauh sebelum gawai sepintar sekarang. Bahkan buku ada di dalamnya. Bedanya hanya tidak bisa dilipat, diusap kertasnya, atau dicium aromanya.
Pasti kamu pernah mencium bau buku, bukan? Bagaimana, harum? Masih ingat aroma buku apa yang paling kamu sukai? Biasanya buku baru, karena aroma kayu dan kimianya masih lekat. Selain buku baru, juga buku cetakan lama, yang kertasnya kuning. Mungkin kuning menambah kesan klasik, dan punya aroma tersendiri. Selalu seru dan menyenangkan mencium aroma buku.
Alasan di atas membuat orang-orang masih bertahan untuk membaca buku fisik. Tapi, apakah memangnya membaca buku lewat gawai kehilangan esensi dari membaca? Tentu tidak. Membaca apa saja dan dari manapun, sah dilakukan oleh siapa saja.
Di masa pandemi virus corona, masyarakat dituntut untuk melakukan segala aktivitasnya dari rumah saja. Mulai dari bekerja, hingga belajar. Semua orang dituntut melek teknologi. Pertemuan dilakukan secara virtual. Guru harus memberikan pengajaran secara daring. Murid mengerjakan tugasnya, minimal juga melalui gawai.
Hal-hal inilah yang kemudian makin merubah kebiasaan masyarakat. Yang biasanya meluangkan waktu untuk membaca buku secara fisik mulai menggunakan gawai karena terbiasa. Belum lagi banyak berseliweran e-book gratisan yang mudah sekali didapatkan dari broadcast pesan singkat WhatsApp.
Tapi seandainya di rumah saja ini memiliki pengaruh yang luar biasa terhadap minat membaca masyarakat Indonesia, tentu sangat positif. Jika sebelumnya menurut hasil riset wearesocial per Januari 2017 menyatakan bahwa orang Indonesia bisa menatap layar gawainya kurang lebih sembilan jam per hari, bayangkan berapa lama orang-orang akan betah bersama gawainya di masa ini.
Tentu orang-orang akan memiliki beragam aktivitas dalam bermain dengan gawainya. Mulai dari bekerja, bersosial media, dan apakah membaca?
Seberapa pentingnya membaca di masa pandemi?
Pertanyaan di atas dapat dengan mudah dijawab oleh orang-orang yang terbiasa meluangkan waktunya untuk membaca. Membaca di sini dalam konteks membaca apa saja, tidak melulu tentang buku. Bahkan tidak melulu secara harfiah dengan membaca, karena setiap orang memiliki pengertiannya sendiri dalam membaca.
Perlu digarisbesari, beberapa hal bisa menjadi pemantik diri untuk mulai membiasakan membaca saat ini. Di antaranya adalah sebagai berikut.
1.    Mencari kebenaran isu agar lebih waspada
Hal ini menjadi penting agar kita tidak panik. Informasi-informasi hoaks harus dicari pembenaran faktanya. Tentu jika masyarakat pengguna gawai ini paham mengenai check and recheck tidak mudah menelan bulat-bulat setiap informasi. Kesadaran seseorang tentang literasi juga menjadi kunci.
Disinformasi atau bahkan misinformasi sering kali menyasar kepada orang-orang yang baru menggunakan gawai, atau bahkan sudah menggunakan sejak lama namun masih gagap dalam penggunaanya.
Membaca merupakan kunci penenang dalam hal apapun. Karena kita akan mengetahui bagaiamana fakta yang ada dan tidak berfokus pada ketakutan yang terkandung di dalamnya. Orang-orang akan mulai menghadapi fakta pandemi dengan mengikuti saran-saran kesehatan.
2.    Me-refresh pikiran meski di rumah saja
Membaca adalah liburan. Beberapa orang memiliki pengertian itu. Ketika membaca, otak dihadapkan pada hal-hal baru; bisa mencerahkan, membuat kalut, atau biasa saja. Namun hal-hal inilah yang membuat sesorang keluar dari kepadatan otak dan masalah sehari-hari. Bahkan mungkin, masalah sehari-hari bisa terpecahkan dengan membaca.
Jika kamu butuh refreshing, kenapa tidak dengan membaca? Kamu bisa merasa sedang di pantai jika membaca novel. Kamu bisa merasa sedang kedinginan di kutup jika membaca puisi. Bukan berlebihan, karena setiap bacaan memiliki rasanya sendiri. Pun ketika kamu membacanya, bukan?
3.    Men-charger ilmu dengan membaca buku
Membaca selalu menyenangkan bagi orang-orang yang hobi. Faktanya, membaca adalah kebutuhan. Otak membutuhkan suplai untuk mengolah pemikiran-pemikiran yang ada. Setiap pemikiran lahir dan/atau berkembang dari buku. Membaca buku merupakan salah satu bagian dari upaya dalam mencari ilmu.
Men-charger ilmu juga berarti men-charger iman. Semakin kita mengetahui tentang sesuatu, maka hal ini juga semakin menambah keimanan kita kepada Allah. Betapa mengagumkannya segala sesuatu yang Allah ciptakan untuk manusia. Hikmah ini sebaiknya kita ambil setelah membaca buku apa saja.
Membaca buku juga sebanding dengan pengetahuan seseorang. Semakin banyak bacaannya, boleh jadi semakin luas pengetahuannya. Hal ini kemudian membentuk bagaimana sesorang berbicara dan bersikap.
Di atas merupakan alasan mengapa kita harus membaca. Mungkin kamu memiliki alasan sendiri mengapa kamu harus membaca. Terlepas dari itu, mari kita tilik kembali fakta yang ada.
Dilansir dari kompas.com, mantan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Puan Maharani mengatakan hasil penelitian perpustakaan nasional tahun 2017 menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku tiga hingga empat kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan jumlah buku yang ditamatkan per tahun hanya lima hingga sembilan buku.
Berangkat dari fakta ini, sudah seharusnya, masyarakat menggalakkan budaya membaca. Membaca bukanlah hal yang membosankan. Bahkan masyarakat Indonesia sangat menggemarinya. Membaca adalah buntut dari rasa kepo alias penasaran. Jika penasaran, cari tahu, dan mencarinya melalui membaca.

Mengapa harus buku?
Buku menjadi senjata yang tak terpisahkan dari sejarah hidup pemimpin-pemimpin besar (Mukhlis, 18:2015). Hal ini jelas terbukti oleh Bung Karno, Bung Hatta, hingga para pemimpin bangsa lainnya. Untuk menjadi seorang pemimpin, membaca adalah keharusan. Dengan membaca, seorang yang tidak tahu menjadi tahu, memahami, hingga dapat dimengerti. Verba volant scripta manen, lisan sementara sedang tulisanlah yang abadi. Artinya sehabat apapun sesorang dalam berkata-kata tidak lebih dari orang yang mampu menulisnya. Begitulah keistimewaan orang yang menulis. Pun keterampilan menulis dapat diasah pula dengan membaca.
Di masa yang serba canggih ini, untuk mencari informasi, mudah sekali. Hanya dalam hitungan detik seseorang dapat mengklarifikasi isu dari berbagai sumber, atau sekadar mencari referensi bacaan. Tentunya hal ini akan menambah khazanah bacaan dan pengetahuan kita.
Kita mungkin belum sepenuhnya menyadari tentang pentingnya membaca buku, dan berpikir hanya pemimpin-pemimpinlah yang butuh wawasan luas dengan membaca. Tapi pasti tidak semua berpikiran demikian. Mungkin kamu juga, setelah atau bahkan sebelum membaca uraian di atas, kita sepakat dan sadar, membaca buku adalah keharusan.
Semoga kita bisa memanfaatkan momen ini untuk lebih giat lagi dalam membaca. Jadi, sudah membaca apa hari ini?

Pustaka
Nadlir, Moh. 2018. Per Hari Rata-rata Orang Indonesia Hanya Baca Buku Kurang dari Sejam. https://nasional.kompas.com/read/2018/03/26/14432641/per-hari-rata-rata-orang-indonesia-hanya-baca-buku-kurang-dari-sejam. Diakses pada 01/09/2018
Nugroho, Suharjo. 2018. Masyarakat Indonesia: Malas Baca Tapi Cerewet di Medsos. https://legaleraindonesia.com/masyarakat-indonesia-malas-baca-tapi-cerewet-di-medsos/. Diakses pada 01/05/2020
Purba, Yudha Manggala. 2018. Minat Baca di Indonesia Disebut Masih Rendah. https://republika.co.id/amp/p4gflk284. Diakses pada 01/05/2020
Said, Mukhlis. 2015. Metamorfosa : dari Siswa Jadi Mahasiswa. Surabaya : Syntesis Center.

Artikel ini merupakan buah karya selama mengikuti bersemadi bersama FLP Surabaya.
#inspirasiramadan
#dirumahaja
#flpsurabaya
#BERSEMADI_HARIKE-1

Comments

Popular posts from this blog

5 Jamur yang Biasa Dibuat Mukbang Ini Wajib Kamu Coba

Pandemi Memaksa Orangtua Belajar Berkomunikasi

Jika Pandemi Adalah Penjara