Tugas dari Ibu Pohon
Sesi tanya jawab dibuka. Tapi ia lebih banyak bertanya ketimbang menjawab pertanyaan siswanya.
“Apa saja manfaat tumbuhan bagi kehidupan manusia?”
Murid-murid tampak antusias seperti biasa. Tentunya bukan karena ingin dapat nilai. Karena bagi anak SD kelas III, sekolah bukan tentang pencapaian melainkan kegiatan yang menyenangkan. Mereka akan berangkat saban pagi, bertemu teman dan gurunya lagi, kemudian pulang setelah seperempat hari.
Neina menjadi guru dengan murid-murid yang begitu lugu. Mereka hanya ingin berbicara apa saja yang melintas di benaknya tanpa orang tahu. Mungkin sebab itu, Neina akan menunjuk siswa nomor presensi 2 dan 5 kala itu.
“Tumbuhan bisa dibuat sayur, hiasan rumah, bisa dijual juga Bu.”
“Tumbuhan kalau sudah besar bisa dijadikan rumah Bu, bisa buat kursi, meja yang kita pakai ini.”
Seperti yang ia duga, anak-anak akan selalu mengungkapkan realitas yang ada di kehidupannya. Ia masih ingat betul, bagaimana ia dulu ditentang habis-habisan oleh ayahnya ketika memutuskan untuk menjadi guru. Kata ayah waktu itu, menjadi guru tak bisa membuat Neina hidup. Ayah selalu ingin Neina sepertinya. Seenaknya saja. Padahal sejak ibu meninggal, ia sudah seperti kehilangan sebuah pohon.
“Bu Guru!”
Panggilan siswanya ini membuat Neina kembali fokus.
“Saya mau bertanya, kemarin kata ayah ketika pulang kerja, ada banjir di pasar Babat. Itu karena apa ya Bu?”
Neina lebih kaget lagi ketika mendengar pertanyaan siswa presensi 7 tersebut. Soal banjir, Neina punya kenangan buruk sendiri. Banjir merenggut pohon kesayangannya itu. Suatu kala, ayah sedang bertugas memeriksa pohon-pohon yang ada di hutan Sambung. Pagi-pagi sekali Ibu Neina berniat mengantar makanan untuk ayah, sebab ibu tau bahwa ayah selalu pulang larut saat bertugas ke dalam hutan. Dan sialnya, itu sarapan terakhir Neina dengan ibu pohon.
Neina kecil waktu itu sedih sekali. Bagaimana tidak, orang yang selalu menemaninya selama 24 jam itu tiada. Kabarnya ibu tersungkur saat menuju pondok di tengah hutan, tempat ayah biasa berteduh saat hujan. Itu pun kata istri teman ayah saat bergosip di rumah duka kami.
Neina kembali melempar pertanyaan kepada siswanya. “Anak-anak, ada yang tahu sebab banjir itu apa?”
Kelas tiba-tiba hening. Sepertinya para siswa sedang berpikir dalam beberapa detik. “Karena hujan deras, Bu,” jawab siswa presensi 1.
Memang benar, hujan deras juga menjadi pemicu meninggalnya ibu. Tapi itu tidak sepenuhnya salah hujan.
Kemudian siswa presensi 3 menjawab, setelah mengangkat tangan. “Saya lihat di TV karena banyak sampah, Bu.”
Apalagi sampah. Seingat Neina, saat ia pertama dan terakhir kali diajak ke hutan, sampah hanya ada di pinggir jalan raya. Padahal di sana sudah ada palang besar berisi larangan untuk membuang sampah di sini.
“Iya, lalu yang lain? Presensi 4 dan 6?”
“Kata bapak Saya karena hutan sekarang gundul, Bu.”
Neina mengangguk, mengiyakan. Hujan deras kala itu membawa tanah dari dataran tinggi ke rendah. Beberapa lainnya akan amblas. Sebab tak ada yang menampung air. Banyak pohon yang hilang, setelah ayahnya menerima uang puluhan juta untuk melunasi cicilan rumah yang ditinggalinya kemarin. Sejak itu pula, tak ada paman-paman berwajah tak menyenangkan yang menggedor pintu kita setelah magrib.
Ayah, Ayah, batin Neina. Ia bahkan tak sempat melihat ayahnya menangis untuk terakhir kalinya. Bukan berarti tak pernah menangis, Neina pernah melihat mata ayah tergenang air mata di bagian bawah, mungkin akan menangis namun ditahan. Sekali. Saat Neina bertanya soal paman-paman berjumlah banyak dengan tubuh kekar, mengangkat kayu dengan sesekali berkelakar. Ah ya, ada juga yang berbadan kurus, tidak kekar, tapi kuat menggotong.
“Ayah, kenapa pohon itu ditebang? Padahal dari banyak pohon di sini, Neina suka itu, tinggi, rindang, pasti menyenangkan bermain di bawah sana.”
Ayah waktu itu memandang pohon yang tengah ditebang, sedikit lama. Kemudian mengeluarkan sisa hela napas panjangnya. Terdengar mendengus, seperti kesal. Entah sesal.
“Lalu jika gundul mengapa?”
“Air diserap oleh pohon, kalau pohon tidak ada, tidak ada yang menyerap air.”
Sepertinya air mata ayah Neina sudah habis. Seperti hutan saat musim kemarau. Atau jika musim penghujan, juga masih sama, tak ada yang bisa dikenang, selain keberingasan.
“Pohon adalah pohon, Nak. Dan manusia juga merupakan pohon.”
Neina jadi merasa kesal waktu itu. Meskipun tidak sepenuhnya paham. Yang pasti, ia telah menulisnya di buku harian halaman seratus satu. Sepekan sebelum meninggalnya pohon ibu.
“Semua jawaban kalian benar, Nak. Coba presensi 4 dirangkum jawaban teman-temanmu, kira-kira mengapa bisa terjadi banjir?”
“Karena hutan gundul tidak ada pohon yang menyerap air ketika hujan deras, Bu.”
“Nah betul, apalagi jika banyak sampah akan mempersulit air mengalir atau pun air yang akan masuk ke dalam tanah,” tambah Neina.
Mungkin ibu Neina akan tenang di alam sana. Setelah menjadi pohon, ia akan menyerap habis air mata kekecewaan Neina kepada ayahnya.
***
Seperti biasa, aktivitas saat mengajar adalah membuka dengan doa, memberikan paparan materi singkat, disambung tanya jawab jika perlu. Kemudian kegiatan inti dan penutup berupa pemberian tugas dan doa.
Hari ini Neina seperti uji nyali. Tak seperti biasanya, mahasiswi jurusan Pendidikan Sekolah Dasar kampus Kanjuruhan Ngimbang itu sampai ke toilet tiga kali.
“Neina, hari ini kamu akan mengajar apa?”
“Saya akan mengajar bahasa Indonesia Bu, untuk kelas III tema 2 sub tema 1 tentang manfaat tumbuhan bagi kehidupan manusia.”
“Baik, silakan disiapkan.”
Ia menyodorkan bahan ajar dan pendukungnya kepada Bu Dosen; Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), silabus, dan lembar tugas dan penilaian.
Lima belas menit berlalu, semua berjalan sesuai RPP dalam bayangannya.
Setelah meminta tiga siswa untuk membaca teks dongeng, para siswa dibagi Neina dalam 3 kelompok. Kelompok pertama berdiskusi tentang dongeng Pengembara dan Sebuah Pohon, kelompok kedua membahas tentang dongeng Pohon Apel, dan kelompok ketiga dongeng Asal Mula Buah Pisang.
“Nanti kalian jawab pertanyaan yang ada pada dongeng yang kalian dapat, di lembar kerja yang akan Ibu bagi. Kemudian ada satu tambahan soal dari Ibu Guru, tolong dicatat ya, nanti ditulis di buku tugas masing-masing sebagai pekerjaan rumah.”
Kelas yang semula hening tiba-tiba menjadi sedikit ramai, karena para siswa sedang mencari buku tugasnya. Neina tampak sedikit gugup sebelum mendiktekan pertanyaan, ia meminta muridnya tenang kembali.
***
Kelas usai. Para siswa bertepuk tangan untuk memberikan apresiasi. Setelah mengumpulkan lembar penugasan, mereka kembali ke tempat duduk untuk menunggu gilirannya mengajar.
Neina juga kembali duduk. Ia mencari tumbler yang diisinya air minum olahan kampus tadi pagi. Ia meneguk air seperti menyiram tanah kering. Mungkin karena ia lebih banyak berteriak dalam hati ketimbang mengajar.
Kebenciannya dengan sosok ayah baginya seperti aliran darah. Mengalir seperti air. Meski begitu, ayah hanyalah pohon seperti ibu. Hanya saja dia akan selalu kurus dan kering. Hampir tak pernah memedulikan.
“Neina, Ayah akan bertugas ke hutan. Kamu di rumah sama bibi ya.”
Selalu itu yang diucapkan ayah tiap pekan. Kalau sudah begitu, tiga hari tiga malam ayah tidak pulang. Jika pun pulang akan larut sekali, setiap hari. Neina bukan butuh sosok Bibi yang melayani makan, minum susu, dan mencucikan baju. Bahkan Neina enggan berbicara dengan wanita berparas keibuan itu.
Bibi ini orang desa asli yang dipekerjakan ayah untuk menjaga Neina dan mengurus rumah sembari ia bekerja. Awal mulanya, Neina tak tertarik untuk berbagi rumah dengan bibi. Karena baginya, rumah itu hanya untuk rumah pohon.
Tak ada rumah selain keheningan. Kadang ia dengar sayup-sayup gosip bibi dengan tetangga sebelah tentang ayah. Saat Neina pulang seperempat hari dari sekolah. Semuanya semakin hening, saat Neina mulai menulis cerita di buku catatan.
“Mantri kok malah kerja sama dengan pencuri.”
“Iya Bu, enggak cuma begitu, masalahnya sama rakyat kecil seperti kami tak peduli.”
Rasanya mengingat kata-kata itu membuat Neina haus. Mulutnya tidak hanya kering, tapi juga berkobar terbakar.
Orang-orang desa menyebut ayah Neina adalah seorang mantri kehutanan. Tugasnya sebagai kaki tangan kementerian kehutanan dan lingkungan hidup di desa kami, seharusnya ia ikut menjaga hutan dan melestarikannya. Bukannya begitu, ayah justru berkontribusi besar dalam penjarahan hutan Sambung. Tiap kali ia masuk ke hutan, ia akan memberi tanda ke pohon-pohon yang siap untuk ditebang.
Ladang perhutani yang disediakan untuk bagi hasil dengan para petani, juga kabarnya akan disewakan ke perusahaan tebu. Hal ini karena pemasukan yang didapat dari perusahaan lebih menggiurkan dibandingkan dari para petani di desa ini.
“Padahal kita sudah berusaha mengikuti semua instruksi Pak Mantri, Mbak. Kita juga tanam bibit-bibit pohon buat menggantikan pohon-pohon yang telah ditebang itu. Mestinya bibit tersebut disediakan perhutani, tapi tak apa jika kita yang harus beli sendiri. Saya kecewanya, Bapak kok begitu tega sama orang kecil.”
Ya Tuhan, jika aku baca sekali lagi ini buku, rasanya ingin berhenti hidup setelah tahu, jika Bapak seberingas ini demi aku.
Banyak berbicara sendiri ternyata membuatnya canggung di depan teman-temannya. Tujuh murid kesayangannya itu pasti sadar jika ada hal yang mengganggu Neina. Biasanya ia selalu tampak ceria dan banyak omong. Mungkin aneh perilakunya tadi, pikir Neina. Tapi tak apa, bagaimana pun ia tadi, Neina telah berusaha menunjukkan cara ia mengajar.
“Neina, tumben sekali kamu seperti tidak niat mengajar?”
“Bukan tidak niat, justru karena aku sangat niat. Aku tadi sedang mencoba gaya mengajar yang baru. Jadi tidak hanya guru yang mengajar.”
***
Neina melayangkan pandangan ke jendela kosan yang hampir tak pernah dibersihkan bu kos itu. Bukan untuk menghitung seberapa tebal debu yang menempel, sepertinya debu di otaknya lebih bebal, sampai ia harus sesekali menggelengkan kepala dan memejamkan mata buat mengusir debu-debu itu pergi.
Memang begitulah Neina hidup. Ia larut dalam kenangan yang tak pernah surut. Kenangan pahit yang membuatnya hidup. Tak bisa dimungkiri, hanya ayahnya yang menopang hidup dua puluh tahun ini. Sebagai pohon, ia berhasil menghidupkan satu pohon di rumah pohon pengorbanan ini.
Ah, yang benar saja, aku sudah berdiskusi lama soal ini, guman Neina pada kaca jendela yang masih ditatapnya tadi. “Ya, benar kata ayah, semua manusia juga merupakan pohon,” bisik Neina sambil tersenyum kecut mengingat nasibnya yang begitu sial. “Mengapa ibu ingin sekali aku mengajar?”
Neina kemudian berusaha menyalakan kembali laptopnya. Mungkin laptop ini sudah lelah, untung tinggal penugasan sebelum Neina tinggal melamun tadi. Ia pun mengetik di lembar tugas untuk bahan ajarnya esok,
Bagaimana cara menyayangi tumbuhan?
***
“Neina.”
“Iya, Pak?”
“Ini uang untuk saku bulan ini ya, Sayang.”
Seperti biasa, tiap awal bulan Neina menerima uang pecahan ratusan ribu sebanyak dua puluh lembar. Kemudian ia akan memeluk pria lima puluh tahunan itu setelah meletakkan polpen di atas buku catatannya.
“Terima kasih, Pak”
Kemudian bapak bertanya,
“Memangnya kamu akan mengajar siapa?”
“Pengembara, Anak Lelaki, dan Macan, Pak.”
Comments
Post a Comment